Segores Malam Bersamamu
Pundak purnama masih malu-malu menyembul dari puing-puing awan dan keping-keping senja. Cahayanya tak jua sampai mengoyak keberduaan kita mengeja menit-menit perjumpaan kita di kotamu, Lia. Sebuah perjumpaan yang sangat hangat, mencairkan kebekuan malam-malam panjang sia-sia lampau.
“Kapan Mas kembali ke Jawa?”
Lia, sebetulnya aku tidak suka pertanyaanmu itu. Sungguh, aku tidak suka! Bagiku, pertanyaan itu terlalu dini, dan justru sengaja mengundang hari-hari segera datang, menjemput dan menyeretku kembali ke Kota Budaya. Padahal aku ingin berlama-lama di sini, di kota hiruk-pikuk ini, agar aku bisa terus menikmati suasana mengambang dalam buaian rasa entah apa.
“Aku pulang hari Rabu, Lia.”
Aku jawab saja begitu, Lia, meski aku sendiri tak menginginkan kata itu. Sebab, ketika aku menyebut nama hari, serta-merta ia akan segera datang. Segera datang, sebagaimana hari-hari adalah abdi yang melayani kita, bukannya kita yang diperbudak oleh hari-hari. Hari itu pasti segera akan datang, sebab kita telanjur mengundangnya. Itu yang sebenarnya belum bisa aku terima!
“Sebegitu cepatkah, Mas?”
Aku suka pertanyaanmu itu, Lia. Aku suka karena seolah-olah kamu tidak ingin cepat-cepat kita berpisah. Dan, jelas ‘begitu cepat’. Jumpa denganmu hanya beberapa jam dengan dikurangi sedikit waktu bisa bincang lama. Ketika ada peluang kita berdua berusaha menghalau sekat-sekat senyap, mendadak buyar oleh keriuhan canda kawan-kawan. Kuhitung-hitung, hanya dua jam kita bisa ngobrol apa saja. Dua jam untuk mengisi hari-hari semu kita? Mana bisa! Tapi waktu terus melaju, Lia. Waktu sering tidak peduli, dan selalu ada tiga pilihan: kita mendahului waktu, beriringan dengan waktu ataukah justru ditinggalkan waktu.
“Apa boleh buat.”
Itulah jawabanku, Lia. Apa boleh buat. Aku harus segera kembali kepada realitasku, bukan terus menerus berada dalam ambang mimpi seorang pria lajang sejuta obsesi macam aku ini. Aku punya tugas di Kota Seniman itu. Aku sengaja tinggalkan semua itu untuk sementara saja, demi menjawab simpang siur short message service, chatting, e-mail, private message dan sua seluler kita, dan demi mengulum senyummu. Cyberspace berkabut pekat. Kita tak bisa berlama-lama terjebak di sana. Namun, apa boleh buat, waktu telah menempeleng impianku.
“Berarti kita tidak jadi membuat …”
Kekecewaanmu langsung menerjang bola mataku. Kekecewaanmu langsung menerjang gendang telingaku. Aku mengerti, Lia. Mengerti. Binar-binar berguguran. Aku turut sedih, karena aku ingat, hari terakhir kamu menelponku dengan gemuruh antusiasme yang tak terduga. Ya, tak terduga. Aku ingat pula, hari silam kamu tiba-tiba mencak-mencak tidak karuan. Waktu itu gara-garanya ‘tamu bulanan’ itu mengunjungi rutinitasmu. Tapi mencak-mencakmu itu kamu lampiaskan padaku.
“Lho, kan ada beberapa kawan kita yang bisa membantumu, Lia?”
Sebenarnya aku ge-er, Lia. Swear! Aku belum lama mengenal teknologi. Sungguh. Baru juga dua bulan aku mencoba mengutak-atiknya. Bahkan aku sempat alergi, kendati aku tidak asing dengan keindahan dan keteraturan. Tapi, kini kamu malah minta bantuanku? Aku harus tahu diri, Lia. Diriku bukan pula seorang pahlawan kesiangan yang tiba-tiba hadir di depanmu dan langsung menolongmu. Aku bukan pahlawan semacam itu, Lia. Di sekitarmu masih ada kawan-kawan yang sangat piawai mengolah semua itu menjadi nyata bertabur estetika.
“Aku nggak enak mengusik kesibukan mereka, Mas.”
Benar, Lia, mereka memang sibuk. Ibukota ini telah memacu gerak segenap tubuh dan jiwa untuk menghabiskan hari sembari menggambar sketsa-sketsa angka yang akan dituai akhir bulan kelak. Mereka telah penat oleh tekanan kapitalisme kota besar. Atmosfir kota ini sangat keras menguras peluh dan keluh. Uang, Lia, uang! Di kota ini kalian mencangkul aspal, jalan layang, gedung bertingkat dan apa saja lantaran hendak memperoleh segepok uang untuk menyuap mulut kelaparan kota. Juga status, Lia. Status pengangguran semacam aku ini pernah kamu protes, sebab tidak lazim pria seusia aku ini menganggur dan di kota besarmu pun pengangguran bukan status yang membanggakan. Aku bisa mengerti kekhawatiranmu, Lia.
“Apa boleh buat, Lia.”
Sekali lagi, apa boleh buat, Lia. Aku tidak punya dalih-dalih argumentatif untuk meyakinkanmu pada sebuah “seolah-olah”. Bukankah aku harus giat dengan aktivitasku seperti juga kamu begitu giat dengan aktivitasmu yang padat itu – kamu berangkat kerja jam 07.00, pulang jam 20.00, serta kegiatan rutin di komunitasmu yang sering sampai larut malam dan berlanjut seusai waktu rutinitas kerja? Bukankah aku harus mengaspal jalan menuju masa depan sebelum kelak aku memakainya bersama seorang gadis (aku berharap gadis itu adalah kamu, Rosalia!) untuk mempersiapkan generasi-generasi tangguh setangguh orangtuanya? Bukankah tiada siapa yang sudi bercinta dengan seorang pengangguran yang hanya menghidupi diri dengan makanan angin, busana daki dan rumah beratap angkasa-berdinding kegelapan? Ah, aku harus memulainya…
Sisa purnama telah rabun akibat genangan awan-gemawan. Cahayanya susut, terangnya surut. Detik-detik berdetak gemetar, menggerogoti keberduaan kita mengunyah serpihan-serpihan perjumpaan kita di kotamu, Lia.
“Mas, waktu memang tak sudi diajak kompromi. Aku harus pulang ke rumah.”
Astaga! Pulang? Apakah aku tidak salah dengar? Apakah kamu tidak salah ucap? Ah, kenapa? Kenapa, Lia? Kita belum lama berjumpa, kita belum lama berbagi kisah, kita belum lama ..., kenapa kini justru kamu yang buru-buru pulang? Apakah kamu tidak melihat gelora rindu meluluhlantakkanku sampai terbuai-buai di hadapanmu? Apakah kamu kecewa mendapati aku yang telah takluk pada pesona dirimu? Apakah kamu tidak berkenan berlama-lama bersamaku di sini? Apakah karena pria lain yang sesungguhnya telah menyelinap dalam bilik hatimu? Apakah…
“Besok pagi aku ada pekerjaan rutin, Mas.”
Lia, Lia. Rupanya pekerjaan rutin telah memeluk dirimu. Rupanya kamu lebih suka berkarya daripada mengumbar rasa yang tidak jelas arahnya. Terus terang, aku suka sekali pada semangatmu, Lia. Kamu sangat aktif dan kreatif. Tak sedikit pun kamu sudi duduk diam menghabiskan waktu dalam lamunan percuma. Ada saja yang ingin kamu kerjakan, apalagi dalam rutinitas pekerjaan dan kegemaranmu.
“Lho, besok itu hari Minggu lho, Lia. Kok hari Minggu tetap sibuk?”
Ya, besok itu hari Minggu. Aku harus mengingat hal itu padamu, Lia. Barangkali kamu lupa hari. Barangkali begitu. Nah, bukankah kita bisa menumpaskan kelam malam ini dengan lebih tuntas tas tas tas? Bukankah jauh-jauh minggu kamu sudah berteriak memanggilku datang ke kotamu? Aku ingin protes, Lia. Apakah kamu tidak mampu merabai kerut cemberut di sela kedua ujung bibirku? Lia, Lia, apakah kamu tidak bisa mendengar nada kecewa dari bilik rasaku?
“Aku sudah ada janji dengan kawan-kawanku, Mas. Aku menikmati kegiatanku, meski hari-hari berlari dan Minggu demi Minggu terlewati.”
Janji? Waduh. Apa dayaku. Aku tidak bisa dan tidak patut menghalangi dirimu dalam menepati janji itu. Kamu memang sebaiknya menepati janji itu, Lia, selagi janji itu mengikat dirimu serta komunitasmu pada sebuah konsekuensi manusiawi yang kelak akan menggiring dirimu pada hasil gemilang atas kerja keras dari kolaborasi harmonis itu. Kita memang berjanji akan bertemu, namun perjanjian kita belum memakai perhitungan waktu yang berangka pasti. Sedangkan janjimu pada mereka telah tersusun dalam ruang-ruang waktu yang tak mungkin bisa digusur oleh hal-hal yang mendadak dan kurang profesional.
“Oke deh, Lia…”
Hanya itu kesepakatanku. Sebenarnya aku tidak ingin mengakhiri malam kelam ini tanpa dirimu, tanpa suaramu yang lincah mengeja serta mengirama aksentuasi khas warisan nenek-moyang yang tak gentar atas desakan globalisasi modernisasi yang telah memporakporandakan tatanan budaya masyarakat dunia dan menjurus pada satu budaya – internasionalisme – yang sangat anti budaya itu. Kota yang amat liberal dan internasional ini ternyata tak kuasa menyembelih jiwa-jiwa tradisionalmu yang kental dan mengakar.
“Doakan aku bisa meraih hasil dari setiap peluh dan penat aktivitasku, Mas.”
Pasti, Lia, pasti. Aku memang merana atas pamitanmu, tetapi kalau soal doa, aku selalu sediakan. Aku punya bejibun doa untuk mengiringi dan membungkus aktivitasmu menghidupkan mimpi-mimpi dahsyatmu. Aku punya bejibun doa untuk memanggil berkah-berkah surgawi tercurah pada lumbung-lumbung keberuntunganmu, Lia. Aku punya bejibun doa untuk membuatmu berkelimpahan dengan segala sesuatu yang baik bahkan terbaik. Namun aku lebih suka mendoakan hatimu menjadi penuh sukacita yang tercetak pada bibir indahmu berupa senyum terindahmu kepada bejibun manusia, kendati aku ragu apakah aku bisa mengulum semua itu dalam sisa-sisa usiaku.
Sisa purnama renta telah buta tergantung di angkasa hitam legam memekat. Kita berdiri serentak untuk menutup pesta kecil kita. Berdua kita beranjak meninggalkan beranda, menuju mobil yang telah siap melahap tubuhmu mentah-mentah. Astaga., Lia! Betapa aku terkejut saat kamu merangkul pundakku! Aku pria normal dan masih bujang, manalah bisa tahan atas sentuhan keramahanmu seakan-akan kita adalah sepasang kekasih yang hendak dilerai sang masa. Tapi tubuhmu segera ditelan kelam malam di saat aneka bunga mengerubungi hatiku.
& & &
bumiimaji babarsari, januari 2003
[cerpen ini dimuat di harian BATAM POS, 14 Desember 2003]
Locker Cerpen Agustinus Wahyono
jangan lupa buka yang terbaru
situs Antologi Cerpen Terbaru
Saturday, April 17, 2004
Gadis Yang Mengendarai Ombak
“Semoga malam ini ada gadis yang sudi menemaniku menikmati suasana malam Minggu di bibir pantai ini, di antara riuh-rendah ombak membelai-belai kaki para pengunjung…,” bisik Oji kepada dirinya sendiri manakala sambil menggeletakkan sekujur tubuhnya pada permadani pasir pesisir ia menatap beberapa bintang terbanting pada sepotong lansekap langit. Ia ingat mitos yang pernah disampaikan oleh rekan kerjanya yang asli Jawa, mintalah apa saja sewaktu kita melihat kartika alias bintang jatuh, dan niscaya permintaan itu terkabul. Percaya atau tidak percaya, iseng-iseng dicobanya juga keampuhan mitos tersebut.
Oji bergeming saja sembari tetap menatap layar langit yang berangsur tergusur warna kelam tersamar. Satu per satu bintang tersapu lembar kelabu kelam. Oji memasukkan kedua jemarinya pada saku jaket. Udara basah kian merajah jaket kulitnya hingga mulai menyelinap. Sayup-sayup suara cekikikan dari beberapa pasang bayangan legam mengipas-ngipas kesepiannya. Entah sampai kapan ia berada dalam suasana hati yang sunyi semenjak sang kekasih yang dipacarinya bertahun-tahun tiba-tiba memilih pelukan pria lain yang memiliki banyak kelebihan dibanding seorang Oji. Ia masih trauma sekaligus makin khawatir akibat situasi jaman yang materialistis, hedonis, oportunis dan serba prestise.
Di langit rembulan telah beringsut dalam selimut hitam kebiruan dengan bayang-bayang aurat yang menggemaskan. Sesekali pijar kilat menyemburat dari kaki langit, meretakkan atap kelam pekat. Tadi sore ketika dengan motor bebek ia berangkat menuju pantai itu, langit benar-benar cemerlang. Tidak ada awan kelabu berkerumun atau menjagai sudut-sudut angkasa. Dan, sampai senja yang kuning keemasan bercumbu dengan horizon barat, ia sungguh-sungguh melihat pesona yang jelas-tegas. Akan tetapi tidak semua tanda-tanda alam itu bisa dijadikan patokan mutlak, dan pula tidak semua tujuman itu jitu. Perubahan cuaca bisa mendadak, meski sampai lebih separuh malam awan tidak juga runtuh dalam wujud jarum-jarum cair memberondong bumi.
Oji mengangkat tubuhnya. Usai menghela nafasnya lepas-lepas, ia memeluk dirinya sendiri dengan kedua telapak tangan terbungkus ujung jaketnya. Pandangannya diarahkan pada gulung gemulung ombak di bibir pantai. Hampir saban Sabtu sore ia mengunjungi pantai ini dan keesokan siangnya pulang ke rumah kontrakannya hanya untuk mengisi kerinduannya pada permainya pantai di kampung halamannya yang terhampar pasir putih dengan tarian pelepah nyiur yang meliuk-liuk kegenitan, ombak setinggi 50 cm yang berlomba-lomba mencapai pesisir, para pengunjung bercanda riang dalam kuluman bibir laut. Pantai yang akan menjadi seperti miliknya sendiri jika ia berkunjung pada hari Senin hingga Jumat selama masa masuk sekolah. Selama masa anak-anak sekolah tidak libur, pantai benar-benar lengang dan gubuk-gubuk penjaja jajanan akan sepi sama sekali.
Terlintas pula dalam ingatannya, lebih 8 tahun ia meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan pantainya, demi menegaskan jati dirinya dalam kancah persaingan dan perburuan status orang-orang. Semula ia hendak memperdalam pendidikannya serta mempelajari situasi daerah lain – daerah yang memang memiliki fasilitas utama serta penunjang yang lumayan memadai. Kemudian setelah usai masa pendidikan ia bersemangat untuk berpartisipasi sekaligus ingin memenangkan persaingan dan perburuan status di daerah orang, bekerja keras dengan berwiraswasta hingga ia tidak bernafsu mendekati calon-calon pendamping kesehariannya kelak.
Ada kerinduan yang menyambangi kesendiriannya saat itu. Kerinduan berlibur sejenak di kampung halamannya dan di pantai yang permai. Tekanan pekerjaan yang bertubi-tubi tiada henti selama ini, ditindih berita-berita gencarnya pengembangan obyek pariwisata serta semaraknya para gadis manis yang selalu tampil modis, mau tak mau menyeret perhatiannya untuk berpaling sebentar ke fatamorgana kampung halamannya.
“Uang, kalau dicari, tak ada habisnya, tak ada puasnya, Ji. Sudah bergaji cukup, masih merasa belum cukup. Sudah bertambah rejeki, masih merasa kekurangan rejeki. Tapi umurmu selalu melangkah meninggalkan jerih payahmu mendulang rejeki. Apa selamanya kamu akan mengejar jabatan dan kekayaan sampai akhirnya ada berita lelayu tiba di rumahmu. Tak adakah waktu untuk menjenguk Emak dan memperkenalkan siapa calon pendampingmu sebelum Emak menutup mata selamanya?”
Begitulah pesan emaknya via interlokal tempo hari, masih terngiang-ngiang di telinga hatinya. Belum lagi kalau adik-adik sepupunya menelpon dan memberitakan tentang si A diterima kerja di perusahaan anu tanpa tes apa pun, si B kini naik jabatan, si C sudah punya anak dua, perusahaan-perusahaan baru sedang mencari tenaga ahli yang berkualitas dengan gaji serta tunjangan ini-itu, dan lain-lain yang menggelitik minat putera daerah. Panggilan pulang mengabdi pada tanah kelahiran begitu mendayu-dayu dalam batinnya, didukung usianya yang masih memungkinkan untuk mencalonkan diri sebagai pegawai negeri sipil.
Kalau kelak aku betul-betul enak kerja di daerah sendiri, punya kedudukan, gaji tinggi, proyek di luar banyak, apakah kelak gadis yang kusukai itu betul-betul mencintaiku secara murni alias tanpa dicampuri kemanjaannya pada kemapanan dan kesilauan calon mertua ya? Wajar sih. Mana ada orangtua yang sudi menyerahkan anak gadisnya pada pengangguran sejati. Kalau pun dari keluarga berada, gadis itu tetap diharapkan oleh orangtuanya untuk bersuamikan seorang pria yang punya pekerjaan. Tapi kalau gadis itu mau dan keluarganya bernafsu menjodohkan aku hanya gara-gara soal finansial dan jabatan strukturalku, apakah cinta semata-mata merupakan suatu dampak belaka?
Begitu pulalah pertimbangan batin Oji hingga ia duduk di pasir sembari memeluk lututnya kembali di hadapan panorama pantai malam itu.
***
Layar langit beralih warna saat rembulan telah menampilkan dirinya di tahta angkasa. Ada satu-dua meteor yang setia menggoresi layar langit dengan garis pijarnya, lalu akhirnya berlabuh entah di mana. Oji masih terkagum-kagum. Seumur-umur, baru sekali itu ia melihat kejadian alam semacam itu. Malam-malam lampau tidak sering terjadi begitu.
Ketakjubannya pada tayangan angkasa malam itu akhirnya dipenggalnya, sebab lehernya terasa pegal setelah sekian waktu menengadah. Digeleng-gelengkan kepalanya, disentak-sentaknya hingga dua kali berbunyi ‘krak!’, lalu dipijat-pijatnya.
Hah, apa itu?
Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia melihat seorang gadis sedang mengendarai ombak yang tepat searah dengan duduknya di pasir pantai itu. Rambut lurus-panjang gadis itu bergerai, dibelai-belai angin malam, melambai-lambai sebagai sapaan.
Yang bener aja nih, katanya dalam hati.
Oji terus mengucek-ngucek matanya. Ia ingin memastikan pandangannya. Mungkin benar juga mitos peri-peri Laut Selatan, mitos Nyi Roro Kidul itu.
Jemari ombak meletakkan telapak kaki gadis itu pada bibir pantai yang masih basah. Gaun panjangnya berjuntai-juntai, memperlihatkan kualitas bahannya dari sutera pilihan. Lantas gadis itu berjalan perlahan nan gemulai menuju tempat Oji duduk. Sementara Oji masih terus terbengong-bengong. Antara yakin dan tidak yakin.
“Selamat malam,” sapa gadis itu dengan suara jernih nan lembut ketika jarak mereka kira-kira tiga langkah. Dari langit rembulan menyinari wajah gadis itu. Matanya sayu, mengajak rasa ingin bermanja-manja. Hidungnya tidak terlalu mancung dan tidak terlalu pesek. Bibirnya tersulam senyuman. Pipinya agak putih dan tidak ada jerawat atau bopeng. Anting-antingnya sedikit berkilau diterjang cahaya lampu petromaks di kejauhan sana. Dan tubuh gadis itu hanya terbungkus busana…
“Se..se..seee…selamat maa..maaa….malam.”
“Mas sendirian saja?”
“Iii… iya… Lha Mbak? Sssssen…sendiri?”
“Sama. Aku lihat dari tadi Mas sendirian saja, merenung entah apa…”
Oji tersenyum. Irama jantungnya semakin kencang. Dadanya kian berdebar-debar.
“Boleh saya duduk di sebelah Mas?”
“Ooo… boleh, boleh, boleh… silakan, silakan.”
Serta-merta semerbak mewangi mengusir hawa garam, lalu mengusap-usap lubang hidung Oji. Ia jadi salah tingkah. Namun salah tingkahnya hanya bertahan beberapa menit saja ketika pembicaraan mengalir lancar hingga tiada lagi kalimat nyata yang keluar dari mulut Oji serta gadis itu, kecuali suara nafas mereka yang berkejaran dengan jemari meliar.
“Eh, aku mencium bau kemenyan?” Oji melepaskan pagutannya.
“Walah, Mas ini kebanyakan nonton tipi sampai-sampai ikut percaya takhyul.”
Benar juga, batin Oji. Kalau gadis ini makhluk jadi-jadian, kenapa aku bisa merasakan hangat tubuhnya dan hangat nafasnya. Persetan pada setan ah!
Ombak putih buram pada dominasi kelabu melegam tampak menjadi gulungan-gulungan alam yang hidup dan bergairah. Oji kembali melanjutkan kegiatan berintim-intimnya, disambut oleh kehebatan gadis itu dalam bergumul. Keduanya begitu ganas bergelombang di hamparan pasir kelam, menenggelamkan tubuh keduanya dalam gelora gulita malam. Keduanya tidak peduli di mana mereka sedang berada.
***
Dari jarak beberapa puluh meter terdengar suara kendaraan bermotor dan ribut-ribut kegirangan sekelompok anak muda. Beberapa pasang bayangan hitam yang kepergok sorotan lampu motor segera terburu-buru membenahi sikap dan busana masing-masing sembari menggerutu atau mengumpat lirih.
Suara-suara kendaraan dan ribut riang para pengendaranya itu pun menggugah kelenaan Oji yang terbaring lelah di sisi tubuh setengah telanjang milik seorang gadis.
Waduh, jam berapa sekarang! Astaga, jam lima! Sampai di kantor bakal kesiangan nih. Bisa-bisa diomelin bos lagi. Brengsek betul si Onoy, Minggu begini malah minta libur untuk nemani anak-anaknya berlibur ke pantai. Giliran aku yang mesti melakukan tugasnya.
Oji segera mengenakan celana jinsnya sembari mengomel dalam hati. Kemudian ia mengibas-ngibas pasir pantai yang menempeli celananya. Sementara gadis itu berbaring miring sambil mengamati gerak-gerik Oji yang tengah merapikan pakaian.
“Maaf, aku harus segera pulang dulu. Terima kasih atas kehangatan…”
“Weh, ya ndak boleh seenaknya begitu, Mas,” sahut gadis itu sambil bergegas bangkit. “Sampeyan harus bayar dulu.”
“Bayar? Bayar apa?”
“Weh weh weh… Sampeyan bagaimana to? Sampeyan tadi yang memanggil saya dengan lambaian tangan, lalu basa-basi sampai tawar-menawar harga, lalu saya setuju bayar belakangan, lalu kita bergelombang, lalu sampeyan tumbang, terus sampeyan tidur ngorok sampai kepiting-kepiting pantai takut keluar lubangnya, kini kok malah bingung.”
“Lho, kamu ‘kan gadis yang mengendarai ombak semalam?”
“Ombak ada di sana tuh. Gadis yang main akrobat itu cuma di gundul sampeyan.”
“Jadi…”
“Ya bayar! Jangan jadi pura-pura bingung, bicara soal gadis yang mengendarai ombak segala. Kenyataannya sampeyan menunggangi saya sampai subuh. Sekarang ya musti bayar dong sesuai perjanjian semula. Atau…!” Ancam gadis itu disertai sikap hendak berteriak, dan tangan kanannya langsung menelusup ke balik sisa busananya.
“Oke, oke, oke…” Oji langsung sadar. Ia tidak berani mengambil resiko lebih fatal. Bukan saja soal senjata yang tersimpan di balik busana minim gadis itu, melainkan juga orang-orang atau minimal preman-preman di sekitar situ.
Oji mengeluarkan beberapa lembar uang kertas kumal dari saku celana jinsnya. Gadis itu menyalakan zipo-nya untuk menerangi hasil kesepakatan dan kegiatan sesaat tadi malam. Setelah lunas, gadis itu menyulut sebatang rokok kretek murahan di bibir pucatnya.
“Lain kali biasakan diri numpang angkutan umum, Mas,” ujar gadis itu sembari ngeloyor dengan menenteng sisa busananya, “biar terbiasa tahu dan bayar tarifnya.”
Angkutan umum? Gawat! Aku nanti harus segera periksa ke dokter spesialis kelamin nih! Lantas, kalau ada yang melihatku berobat gara-gara penyakit aib itu? Waduuuuh! Bakal jatuh pamorku! Sial! Sial!
*******
parangtritis-babarsariyogya, 14/12/02-2003
Keterangan
ndak = tidak
to = sih
sampeyan = kamu
[cerpen ini kebetulan meraih juara harapan 2 Lomba Menulis Cerita Pendek Majalah Sagang Riau, 2003]
Gadis Yang Duduk Di Kursi Itu
Semangkuk bulan tergeletak di meja langit. Malam ini adalah Malam Sastra yang ketiga selama beberapa malam Minggu. Masih saja kulihat seorang gadis yang duduk di kursi sana. Sementara kawan-kawan lainnya hanya lesehan alias duduk bersila di atas permadani konblok lapangan parkir mobil bagian dalam kampus.
Aku sempat gugup. Tapi, kuenyahkan saja. Masa bodoh. Masa bodoh dengan kehadirannya. Masa bodoh dengan paras cantiknya. Sebab, sebentar lagi giliranku membacakan cerpen pendekku yang pernah dimuat di sebuah antologi.
“Noy,” tegur Oji dari sebelahku.
Aku menoleh ke arah Oji.
“Malam ini kau tampak tegang dan gelisah sekali, mirip orang tengah demam panggung saja,” komentarnya.
“Iya, nggak seperti acara kita sebelum-sebelumnya,” timpal kawan sebelahku.
“Nggak tahu nih kenapa,” kataku.
“Ada masalah? Kau sakit?”
“Nggak,” sahutku.
Kami kembali memandang ke arah “panggung darurat” sana. Beberapa kawan tampil, mementaskan paduan puisi, musik, lagu dan aksi teatrikal. Protes sosial, kasih tak sampai, rindu kampung halaman, kecewa pada apa saja, atau tengah jatuh cinta. Tepuk tangan pun bergema, menyemangati aksi mereka.
Sekilas aku melirik ke arah gadis itu. Astaga! Ternyata dia tengah menatapku. Tidak ada senyum. Hanya matanya yang begitu lembut mengusap mataku. Alangkah aduhainya. Aku malah makin gugup. Lantas, kubuang pandanganku ke arah obor-obor yang tertancap di sekitar “panggung darurat” itu. Apinya menari gemulai, meningkahi suara para pembaca sastra yang diiringi petikan gitar. Api yang merangsang imaji.
***
Malam Sastra yang kami gelar pada malam Minggu (kendati tidak setiap malam Minggu) merupakan hasil kesepakatan segelintir mahasiswa yang sedang menyulam komunitas baru. Ada yang dari fakultas Ekonomi, Teknik, Industri, Isipol, Biologi maupun Hukum. Aku sendiri berasal dari fakultas Teknik. Kami berkumpul dan bersila alias lesehan di atas hamparan konblok halaman parkir mobil bagian dalam kampus kami, diterangi oleh beberapa obor (kami sengaja tidak memakai lampu listrik) dan dengan berlatar belakang air pancuran (kami namakan “Komunitas Cermin Pancuran”).
Acara Malam Sastra itu pun adalah untuk mengisi masa-masa “bujang” alias bagi yang belum memiliki pacar. Bisa juga untuk hiburan murah bagi kawan-kawan yang sedang tidak punya duit untuk mengajak pacarnya berkeliaran di mal, restoran, kafe dan lain-lain. Aku nimbrung di komunitas tersebut lantaran “masih bujang”.
Ya, aku sedang jomblo alias sedang “kosong”. Dulu (satu setengah tahun silam) aku pernah mempunyai pacar, namanya Rosalia, mahasiswi fakultas Ekonomi. Aku berpacaran dengannya selama empat tahun lebih sekian bulan sejak dia masih menjadi adik kelasku di SMU. “Perceraian” kami dikarenakan oleh hatinya yang telah berpindah ke lain pria. Aku frustasi sekali waktu itu. Ternyata tidak semua perempuan setia. Mungkin memang hidup ini fana sehingga rasa dan cinta pun ikut fana.
Pengaruh buruk dari ‘perceraian’ kami adalah aku menjadi seorang perokok berat, yang dalam satu hari aku sering menghabiskan rokok sebanyak tiga bungkus berisi enam belas batang dan ditambah beberapa rokok ketengan lagi. Setiap bangun tidur, satu hal yang pertama kali aku cari adalah rokok. Demikian juga sebelum tidur malam, aku akan merokok sebagai pengantar tidur. Aku merasa tidak bisa tidur nyenyak tanpa membekali diri dengan rokok. Rokoklah pacarku yang kuanggap setia.
“Sudahlah, lupakan saja. Mungkin Rosa memang bukan jodohmu, Noy,” hibur kakak perempuanku waktu aku frustasi begitu. “Kan masih banyak perempuan lain. Kamu lihat sendiri, di kota ini perempuannya bukan hanya Rosamu itu Di kampusmu, mahasiswinya bukan hanya Rosa. Perempuan juga bukan hanya ada di kampusmu. Di kampus lain kan ada, bahkan mungkin lebih dari Rosamu itu. Atau, kamu mau Mbak kenalkan dengan rekan sekantor Mbak yang masih lajang? Ada yang berumur hampir 40 tahun tapi masih single lho, Noy. Kamu mau nggak? Eh, tapi asal tahu saja ya, tidak setiap perempuan suka pada pria yang merokok apalagi sudah perokok berat!”
Ingat hiburan kakakku itu, akhirnya frustasiku reda. Dan saat-saat “sendiri” begini, aku ingin mempunyai pacar lagi. Tentu saja yang karakternya tidak angin-anginan seperti mantan pacarku itu. Aku optimis bahwa masih ada gadis yang setia, meski kesetiaan itu ibarat sebongkah harta karun yang sukar mencarinya.
Gadis yang selalu duduk di kursi selama tiga kali acara malam sastra itu tiba-tiba menyelinap dalam bilik hatiku. Mungkin malam ini aku akan segera melepas status “bujangan” di antara kawan-kawan kampusku. Ah, mungkinkah? Tapi sayang, aku tidak mengenalnya. Sewaktu acara pertemuan untuk menentukan nama komunitas, gadis itu tidak terlibat. Demikian pula dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mungkin dia hanya penonton biasa. Mungkin dia sekadar hendak membunuh sepi. Atau, mungkin malah seorang pengamat sastra. Bisa jadi, diam-diam dia pengagumku?
Aku betul-betul tidak tahu, mahasiswi dari fakultas manakah gadis yang berambut lurus sepunggung, berhidung mancung, berkulit kuning langsat, bertubuh ramping serta perpakaian hanya kaos oblong ketat, celana jins ketat dan sandal jepit putih itu. Yang jelas, setiap kali aku tampil membacakan puisi dan cerpen, dia selalu menatapku lekat-lekat, dan selalu duduk di kursi. Itu saja yang paling melekat dalam ingatanku.
***
Malam ini aku tampil lagi. Dan, kali ini pun hanya gadis itu yang paling serius menyimak. Alamak! Bola matanya yang bulat itu seakan hendak menerkam mulutku. Tampaknya dia yang paling mengerti ekspresi seni-sastra, dibanding beberapa penonton perempuan lainnya yang hanya bisa tersenyum atau berbisik-bisik. Maklum, di kampus kami memang tidak ada fakultas Seni, Sastra atau Budaya.
“Angin malam perlahan-lahan merengkuh tubuhnya.
Di langit sana bulan telah hangus.”
Demikian kata-kata terakhirku menutup cerpen Membakar Bulan yang pernah dimuat di sebuah harian. Serta-merta gadis itu bangkit dari kursinya, lalu … Plok! Plok! Plok! Dan seterusnya. Suara tepuk tangannya paling nyaring diantara tepuk tangan para penonton di depanku. Matanya menjadi bundar berbinar-binar di antara mata-mata suram yang memandangku. Senyumnya mekar begitu saja, memamerkan barisan gigi indahnya, sedangkan bibir para penonton tetap bergaris datar serta mengatup. Air muka gadis itu cerah sekali, melebihi pantulan-pantulan cahaya obor kami, dan tentu saja melebihi air muka beku para penonton lainnya yang masih selalu lunglai bertepuk tangan di depanku.
Selain itu, aku pun heran, kenapa di Malam Sastra keempat ini gadis-gadis lainnya tidak seantusias gadis itu dalam menanggapi aksi baca sastraku. Barangkali memang hanya gadis itu yang sungguh-sungguh mengerti tentang sastra dan ekspresinya. Kalau memang begitu, seharusnya gadis itu juga bersedia tampil, karena acara ini sangat terbuka bagi siapa saja untuk tampil mengekspresikan seni-sastra mereka.
Berikutnya aku seolah diperhadapkan pada dua pilihan, yakni gugup lalu mengakhiri aksi sastraku, ataukah kian bergairah laksana gelora obor tersiram minyak tanah untuk kian membakar kebekuan bulan di situ. Betapa tidak makin bergairah jika seorang gadis secantik dirinya (yang berpenampilan fisik sesuai seleraku) tampak begitu penuh perhatian, menyemangati, meresponi dan mengagumi aksi panggungku. Bagi diriku yang selalu mengisi malam Minggu dengan menabur puisi dalam sepi dan acara-acara berasa sastra, tentu saja sangat merindukan gadis semacam itu, terlebih juga jika ada tindak lanjut yang lebih bersifat intim. Ah, kalau ternyata…
Malangnya, antusiasme gadis itu justru membuyarkan konsentrasiku. Ide-ideku lenyap sekejap. Aku jadi kikuk di hadapan beberapa belas pasang mata. Ingin rasanya kumaki diriku yang tiba-tiba macet aksi ini. Maka, daripada kekikukanku menjadi tontonan yang tidak apresiatif terhadap acara malam sastra tersebut, aku terpaksa meninggalkan “panggung darurat” dan kembali ke tempat lesehanku semula.
“Kalimat terakhir cerpenmu itu bagus sekali, Noy, ‘bulan telah hangus’. Betul-betul puitis!” puji Oji yang selalu duduk dekat aku.
“Makasih,” kataku datar dan singkat saja lantaran pujian itu justru membuyarkan gelombang rasa kebanggaanku atas antusiasme gadis cantik tadi.
“Kalau kau semakin meningkatkan mutu dalam menulis dan membacakan cerpenmu, pastilah bisa ngompori semangat kawan-kawan lainnya. Walaupun kita ini bukan mahasiswa Sastra, tampil bagus harus tetap menjadi bagian dari proses kreatif kita.”
Aku tersenyum. Senyum terpaksa. Terpaksa demi menghargai Oji, kendati dia tidak tahu bahwa aku tengah terlelap oleh antusiasme gadis yang selalu duduk di kursi itu. Kemudian ingatanku kembali kubelokkan kepada gadis itu.
Sementara di “panggung darurat” di depan kami tampillah kawan kami yang lain untuk membacakan puisi. Puisinya sendiri. Di samping membawa secarik kertas folio, dia menenteng pula sepasang batang kayu berukuran segenggam tangan. Tampak seorang lagi membantunya membawa sebuah kursi lipat. Entah apa yang akan diperagakan demi mengekspresikan puisinya. Tapi pikiranku tidak di situ. Konsentrasiku tidak mengarah ke
panggung. Melainkan, tertuju pada keberadaan gadis yang selalu duduk di kursi itu.
“Eh, Ji, apa kau kenal gadis itu?” tanyaku sambil menunjuk dengan jempolku.
“Gadis yang mana?” Oji mendongakkan kepalanya.
“Sebelah sana itu. Tu, tu, tuh!” kataku seraya memencongkan mimik mukaku dan gerakan mataku untuk ikut meyakinkan arah jempolku.
“Mana?” Oji penasaran. Kepalanya bergerak ke mana-mana.
“Yang satu-satunya duduk di kursi!” tandasku. Pandanganku ke arah gadis itu terputus sesaat karena aku ingin memastikan ke arah mana mata Oji tertuju.
“Di kursi? Kursi yang mana, Noy? Tidak ada kursi. Semua duduk lesehan.”
Aku kembali menoleh ke arah duduk gadis itu. Namun, astaga! Tidak ada gadis yang duduk di kursi. Tidak ada tatapan mata yang indah. Tidak ada kecantikan yang bersinar. Kupastikan lagi pandanganku dengan kemampuan mataku yang memang telah berkurang (minus ¾ tapi enggan berkacamata). Kulihat semua orang berlesehan.
“Lho, mana dia? Tadi dia asyik sekali duduk di kursi lho, Ji. Sungguh!”
“Sejak awal kita sepakat berlesehan saja, Noy. Mana mungkin ada yang berani membawa kursi dan duduk manis dengan segala keangkuhannya di situ.”
Lantas, siapakah gadis yang selalu duduk di kursi itu?
*******
babarsariyogya, 2002
[cerpen ini dimuat di harian Batam Pos, edisi 16 November 2003]
AKU MAU MEMANAH MATAHARI
Jangkrik meradang pilu, memanggil hujan agar sudi sirami rumahnya yang telah gersang. Oji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di sebelah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos singlet kumal. Matanya menatap kalender bergambar panorama air terjun yang menempel di dinding papan rumahnya. Sudah beberapa purnama hujan belum sudi mengguyur kampungnya.
Sampai kapan keadaan akan begini terus, pikir Oji.
Ia ingat, tadi sore, sewaktu ia hendak memeriksa pintu kandang ayam – saat ayam-ayam ayahnya pulang kandang, pandangannya sempat terjatuh pada beberapa batang jambu biji di halaman belakang rumahnya. Batangnya kering menyamping di atas tanah kerontang. Di bawah batang ada dua ekor ayam kampung yang kelelahan. Bola mata mereka kuyu, tubuh pun layu. Bulu-bulu mereka berlabur debu.
Kemudian mata Oji hinggap pada seonggok kaleng kering yang sering dipakai untuk menampung air minum ayam-ayam kampung ayahnya. Di dekat kaleng itu ada sebatang kran air yang bersumber dari pipa PDAM. Kata emaknya, sekadar untuk persediaan kalau perigi betul-betul kering sama sekali. Lantas dihampirinya kran itu, langsung diputarnya. Cuuuuur! Airnya muncrat. Namun cuma sesaat. Yang berikutnya keluar hanya angin beserta suara desisan-desisan.
Sialan, dari kemarin begini terus! Perusahaan Daerah Angin Melulu!
Sore itu kejengkelannya berlipat. Sewaktu hendak mandi, dilihatnya bak mandi kosong melompong. Dilongoknya isi perigi. Air perigi sudah dangkal sekali, tidak terjangkau lagi oleh ujung pipa pompa air. Sedangkan mereka sudah lama tidak memasang timba. Kalau pun terpaksa memakai timba, justru keadaan air akan keruh.
Dibukanya kran cadangan – kran yang dihubungkan dari pipa yang bersumber dari PDAM. Cuuuuuuuuuuur! Air tersembur. Ditunggunya terus, karena ia curiga, jangan-jangan setelah ini yang keluar cuma angin melulu lagi. Ternyata tidak. Air terus mengucur deras, mengisi bak mandi. Oji tersenyum. Wah, ini baru PDAM, Perusahaan Daerah Air Mandi!
Akan tetapi air mukanya mendadak berubah dan matanya terbelalak ketika dilihatnya keadaan air yang mengucur itu. Airnya berwarna coklat dengan bintik-bintik pekat. Alhasil, bak mandi mereka hanya menjadi penampungan air keruh.
Ini malah seperti air kencing! Super sialan sekali!
Tak henti-hentinya Oji memaki. Betapa tidak. Orangtuanya sudah berlangganan air di PDAM, rutin membayar, tidak pernah terlambat karena petugas selalu datang setiap tanggal tagihan. Namun yang diperoleh justru air tak layak disebut “Air Minum” dan “Air Mandi”, plus semerbak aroma kaporit. Sempat kepikiran mandi di sungai. Tetapi, sejak maraknya proyek tambang inkonvensional beberapa tahun ini, kondisi air di kampungnya sudah tidak sejernih dulu. Warna airnya kini sama seperti kopi susu. Akibatnya, sore itu Oji urung mandi.
Bulan singgah di atap rumah. Obat nyamuk bakar mengalirkan asap di bawah tempat duduk Oji. Air muka Oji begitu kusut. Dahinya berkerut. Gondoknya membengkak. Kedongkolannya pada PDAM terus menggelora. Sembari memandang langit lapang penuh bintang, dibayangkannya orang-orang yang bekerja di perusahaan air sana hanya memakan gaji buta, tunjangan, bonus beserta pesangon pensiun tanpa pernah bersungguh hati memikirkan hasil kerja yang sangat jauh dari lumayan. Selain itu ia pun teringat pada koran paginya yang memajang foto kekeringan di kantong-kantong air buatan di beberapa tempat.
Ah, sungguh-sungguh super sialan! Gara-gara kekeringan! Gara-gara alam! Sialan! Matahari bikin sial! Tidak tahu diri, rakus, menghisapi isi perigi, sungai, kolong, sumber-sumber air sampai badannya bulat buncit begitu! Sulur-sulurmu sungguh sialan, matahari!
***
Ayahnya sudah berangkat ke pasar bersama emaknya untuk membeli ubi – untuk makanan ayam setelah dicampur dedak. Kakak sulungnya sedang sibuk sekali di kantor. Sementara kedua adiknya sedang asyik membuat akuarium – rencananya untuk ikan louhan, Oji bergegas keluar rumah melalui pintu belakang sambil membawa parang.
“Hei, Ji, mau kemana, kok bawa parang? Kok nggak kerja?” tegur Onoy ketika mereka berpapasan di antara rerindangan pelepah pepohonan salak liar.
“Eh, Noy, lagi ngapain? Kok kau nggak kerja hari ini?”
“Mobil kami masuk bengkel. Lagian masa libur begini penumpang sepi. Mending aku nyari tabun guci untuk makanan anjing kami, biar makin garang. Kau mau ngapain?”
“Aku belum dapat panggilan kerjaan nih, Noy. Penganggur intelek. Terlalu banyak sarjana ekonomi di sini. Eh, sssst…,” kata Oji sembari memasang telunjuk di bibirnya. Lalu ia mendekati Onoy seraya kepalanya sebentar-sebentar menatap atas di sela-sela rerindangan pelepah pepohonan salak liar. “Kau jangan bilang ke siapa-siapa, ya. Janji?”
“Oke deh. Swear!”
“Aku mau nyari bambu di pinggir sungai sana. Aku mau bikin panah besar.”
“Panah besar? Untuk apa?” tanya Onoy lirih, mulutnya didekatkan ke kuping Oji.
“Aku mau memanah matahari,” jawab Oji sambil menunjuk ke atas.
“Kenapa?”
“Walaaaah! Masak sih kau nggak nyimak. Matahari sialan itulah yang selama ini telah menghabiskan air di kampung kita. Perigi-perigi, sungai-sungai, kolong-kolong serta sumber-sumber air lainnya hanya menyisakan bongkahan-bongkahan tanah liat! Awan gemawan pun tak luput dari penghisapannya. Coba kau lihat langit sana.”
“Lho wajar. Sekarang kan memang musim kemarau, masa-masa matahari kehausan. Musim kemarau itu berkisar antara bulan April sampai Oktober. Sekarang bulan apa, Ji?”
“Juni.”
“Nah!”
“Emangnya kalau kemarau, berarti tidak ada hujan?”
“Mmm… belum tentu juga sih, Ji. Pasalnya, beberapa hari lalu ada hujan, bahkan lumayan lebat dan geledek saling meledek.”
“Nah, ya itu, Noy!”
“Ya sudah. Selamat memanah matahari! Semoga sukses, dan tidak pernah lagi ada masalah kekeringan di kampung kita. Viva Oji! Hidup Oji!”
***
Matahari bergelinjang di puncak langit. Beberapa batang bambu yang telah bersih dari ranting-rantingnya tergeletak di sela semarak ilalang. Oji mengikat pertengahan sebatang bambu berukuran sepuluh meter pada seonggok pohon kelapa yang berbatang miring dan telah digundulinya. Kebetulan batang kelapa yang miring itu menghadap ke timur. Kedua kaki paha Oji memeluk erat pokok kelapa itu. Peluh mengalir deras di sekujur tubuhnya, dan ada yang tergelincir di bibirnya. Disesapnya. Asin. Oji tidak peduli. Ia justru semakin bersemangat seperti mendapat enerji baru, sampai ikatan terakhir rampung.
Selesai. Oji menarik nafasnya dalam-dalam hingga dada legamnya mengembang. Kemudian dihelanya lepas-lepas. Fiuh!
“Aaaaaaargh!!!” Oji berteriak lantang sembari mengangkat kedua tangannya. Kepuasan langsung terbebas dari rongga dadanya setelah tiga hari ia membuatnya.
Selanjutnya dilihatnya kedua ujung batang bambu yang tengahnya terikat erat pada ujung gundul batang kelapa itu. Kedua ujung bambu telah terikat pula tali tambang merentang. Sebuah busur! Lalu ia mengikat pertengahan bentang tali tambang itu.
Tak berapa menit Oji sudah meluncur ke tanah, dan segera mengaitkan tali yang menarik bentang tali tambang. Kaitannya diletakkan pada tunggul batang rambai. Pas. Perhitungannya telah matang benar, sehingga pekerjaan itu tepat sesuai rencana dan rancangan gambarnya.
“Aaaaaaargh!!!” Sekali lagi Oji berteriak lantang sembari mengangkat kedua tangannya. Kau harus mengembalikan jarahanmu, Penghisap!
***
Deru kendaraan bermotor tidak mampu menembus pepohonan di kebun orangtuanya tatkala Oji telah bersiap-siap memanah matahari yang belum lama bangkit di ufuk timur. Kacamata kawat berkaca klise foto menempel di depan matanya. Perlahan-lahan dan dengan sekuat tenaga ditariknya tali pengait busur panah raksasanya, terus, terus, sampai busur melengkung dan pertengahan tali busur membentuk sudut lancip. Sesampainya ia pada jarak langkah berdekatan dengan tunggul rambai, Oji segera mengaitkan tali itu pada tunggul. Klik! Terkunci dalam keadaan siaga tembak.
Oji melirik arlojinya. Jarum jam menunjuk pada angka 06.34. Dada Oji berdebar-debar. Lalu ia memandang langit dalam sudut miring. Matanya menangkap sedikit garis pinggir bulatan matahari. Saat-saat yang dinantikannya telah tiba atasnama kebutuhan.
Kau harus mengembalikan air hasil jarahanmu, Brengsek! Di saat para pengelola air minum itu tertawa ngakak menikmati gaji buta beserta bonus ini-itu, kau malah menari kegirangan di angkasa sembari menghabisi air-air rakyat! Sebentar lagi rasakan!
Sambil menyumpah serapah Oji mulai melakukan bidikan. Anak panah yang lurus memanjang dibidiknya pada sasaran. Perhitungan trigonometrisnya telah matang. Jari-jarinya siap membuka tali pengait. Maka … plas! Melesatlah sebatang anak panah ke angkasa. Sekejap saja ekornya sudah hilang dalam cemerlang matahari. Dan Oji tersenyum.
Tapi sekian menit tetap tidak ada perubahan. Tidak ada tanda-tanda matahari tertusuk anak panah. Tidak ada tanda-tanda kebocoran benda bulat benderang menyilaukan itu. Oji penasaran. Dipasangnya lagi sebatang anak panah. Ditariknya beberapa langkah, lebih jauh dari langkah ancang-ancangnya yang pertama tadi. Lalu… plas!
Ditunggunya lagi. Tetapi belum juga ia menemukan tanda-tanda anak panah menembus dan melubangi matahari. Ia masih penasaran. Dilakukannya lagi pemanahan itu. Lagi, lagi, lagi. Tujuh kali. Ya, terhitung sampai tujuh kali – angka sempurna bagi Oji.
***
Di warung empek-empek Yuk Nina Oji berjumpa lagi dengan Onoy yang sedang minum es parut seusai bertugas menyopiri angkutan merah jurusan Pasar – Udik.
“Beres, Noy! Tadi pagi aku sudah memanahi matahari sialan itu. 7 kali!”
“Wah, hebat kau, Ji. Lantas hasilnya?”
“Sampai sore ini kok tidak ada perubahan ya, Noy? Tidak ada kebocoran di langit.”
“Ji, Oji. Aku sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin hendak bilang ke kau, bahwasannya usaha kau itu ibarat menyurat di atas air.”
“Menyurat di atas air?”
“Ya, usaha yang sangat sangat sia-sia. Percuma sekali.”
“Kok bisa begitu?”
“Dengar baik-baik, ya, Ji. Begini. Kau masih ingat pelajaran sekolah dulu, bahwa kalau siang hari air akan tiarap, dan pada malam hari air akan…”
“Disedot naik oleh bulan? Jadi selama ini si bulan-lah biang keladinya?”
“Ehm…“
“Tapi, bagaimana caranya?”
“Sssssst, jangan kencang-kencang,” ujar Onoy sambil cepat menbekap mulut Oji.
“Oke, sebentar,” kata Oji dengan lagak pemikir. “Ya, aku tahu! Selama ini, saban malam waktu kita tidur pulas, diam-diam bulan telah turun dari kursi empuknya karena kehausan. Lantas perigi, sungai, kolong serta sumber air di kampung ini jadi korban?”
“Tuh kan, Ji, kau bisa mikir sendiri.”
“Bedebah! Bangsat! Betul-betul bulan bajingan!”
Oji segera bergegas menuju kebun orangtuanya. Tiba-tiba bulan ada di matanya.
***
Kelelawar melayang lunglai mencari nyamuk, ditingkahi jeritan jangkrik yang meradang pilu memanggil hujan agar sudi sirami rumahnya yang telah gersang.. Oji terus memanahi bulan. Malam besoknya juga. Malam selanjutnya pula. Terus begitu pada malam-malam berikutnya hingga bambu-bambu, kayu-kayu, besi-besi di kampung mereka habis dipakai Oji sebagai anak panah untuk membocorkan perut bulan agar air tercurah kembali. Ia juga berharap rombongan awan gemawan kelabu sudi berkunjung lagi sambil membawa pundi-pundi berisi air tanpa gentar pada hardikan atau mata melototnya bulan, lalu menyiramkan air dari pundi-pundi itu ke perigi-perigi, sungai-sungai, kolong-kolong, bak-bak penampungan, ember-ember, kolam-kolam, kaleng-kaleng minum ayam-ayam ayahnya, pot-pot kembang emaknya …
*******
sungailiat, juni-agustus 2003
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 14 September 2003]
PANGGILAN
Lelana ing langit biru
Semi mamring, nglangut, samun
Jembar bawera tanpa wates
Bebasan godong garing… 1)
Aku terjaga. Kukucek-kucek mataku. Aku tidak sedang bermimpi. Nyanyian beraliran rap dengan melafalkan geguritan begitu rapat mencumbui lubang telingaku. Suaranya begitu enteng menyelusuri saraf-saraf dengarku sampai ke lipatan otak dan membuka file-file memoriku seolah-olah tengah mengundang kedatanganku. Aku hafal suara pelantunnya. Aku sudah intim dengan jenis vokalnya. Vokal milik seorang gadis. Ya. Langen Kirana! Aku tahu Langen Kirana sedang melantunkannya. Mungkin saat ini dia sedang mandi. Atau, sedang berdandan. Mungkin malah sedang berberes-beres…
Berberes-beres? Kamu mau pergi, Kirana? Astaga! Aku ingat. Kamu pernah bilang padaku bahwa kamu akan pentas musik posmo hari ini. Ya, begitu. Betul!
Tapi, di mana aku kini berada? Suasananya tidak seperti di kamarku. Suhu ruang asing ini panas, dinding putih polos, satu unit komputer terbungkus plastik, lemari kayu cukup besar, gudang mungil berisi kardus, koper dan sebuah lampu petromak, dan suara musik senam pagi. Jelas ini bukan suasana kamarku, rumahku.
Aku memang tidak tengah bermimpi. Apalagi ketika kurasa badanku pegal-pegal dan sakit di sepanjang punggung. Aku tadi tidur di ranjang kayu berkasur kapuk mati. Ini kasur atau tumpukan papan lapuk, kerasnya minta ampun. Lalu … Kreok! Kretek! Krek! Aku menggeliat sedikit saja, ranjang kayu ini langsung bersuara.
Kulirik arlojiku. Pukul 11. 45 WIB. Ya, aku baru ingat. Saat ini aku berada di rumah kawanku, di kamar tamu. Tadi pukul 06.00 aku tiba di rumahnya. Sebulan silam aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan berkunjung. Kunjunganku kali ini adalah bagian dari petualangan jarak jauhku, menyusuri kota-kota selama cuti. Kebiasaanku memang begitu. Di samping tamasya, juga untuk menambah wawasan terkini.
Jrek jrek nong
Jrek jrek gung
Blakdug blaknong
Blakdug blakgung… 2)
Tunggu sebentar, Kirana. Mainkan dulu musikmu, isilah waktu. Sekarang aku harus mandi lagi dan menaburi diri dengan wewangian sebelum menjumpaimu.
***
Kupacu motor laki bermesin dua tak-ku. 50 km/jam… 80 km/jam… 100 km/jam… 110 km/jam… Motorku meraung-raung di kolong-kolong jalan layang. Aku seperti kesetanan merobek keramaian jalan. Para pengendara di sekitarku tidak sedikit pun melirikku. Mereka memang tidak peduli. Kalau pun ada yang melirikku, paling-paling lantaran posisi motorku yang nyaris menyenggol mobil mewah mereka.
Kirana, Kirana… Umpama kamu melihat kencangnya laju motorku, kamu pasti akan menutup matamu sampai aku berdiri tanpa motor ini lagi di depanmu. Padahal aku sudah biasa begini, Kirana. Kalau aku keluar kotaku, entah ke Pasir Putih atau Selekta, pastilah motorku akan melaju kencang. Tapi kali ini memang lain, Kirana, terlebih aku telah memacu motorku ini hingga ke kotamu, Jakarta ini. Kamu harus terbiasa dengan kebut-kebutanku. Sebab kelak aku akan mengajakmu berwisata di pesisir utara-selatan Jawa, atau sekitar puncak Bogor, Lembang, Kopeng, Kaliurang, Tawangmangu, Tengger, Bromo dan lain-lain, pasti aku akan memacu motorku sekencang ini.
Motorku menuju persimpangan. Dari jauh kulihat traffic light menyala warna merah. Sialan! Betul-betul sialan! Kecepatan motorku dari 115 km/jam lambat-laun menjadi 50 km/jam, 25 km/jam dan akhirnya 0 km/jam. Serta-merta pengemis, pengamen dan penjual koran menyerbu. Seorang pengemis cilik dengan muka memelas datang menghampiri motorku. Aku bergeming. Kutengok di pinggir persimpangan itu, ada sekelompok anak kecil berpakaian lusuh sedang bermain. Wajah mereka sama sekali tidak tergores kejamnya tekanan ekonomi dan tuntutan perut.
Sewu dalane pati
Sewu dalane rejeki
Manungsa mung sadrema nglakoni
Jagat iki pancen kebak pitakon… 3)
Mentari tengah hari begitu bengis menikam kulit tatkala terus terngiang suara Kirana melagukan geguritannya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri secara lebih leluasa. Aku waspada, kalau-kalau muncul kelompok penjahat dan langsung merampas motor kebanggaanku. Bisa-bisa aku menangis darah jika perampok keji itu merampas motorku ini, karena aku membeli motorku ini betul-betul murni dari tetesan peluh selama sekian tahun aku bekerja keras sebagai apa saja asalkan halal.
Aku tahu, dan bukan sesuatu yang heboh lagi bahwasanya penjahat di Ibukota ini sering nekat. Contohnya kelompok Kapak Merah. Mereka berani menodong di persimpangan jalan dengan bersenjatakan kapak merah, lalu minta handphone – untung aku belum punya - dari pengemudi mobil pribadi yang tampak borjuis. Begitulah singkatnya. Kalau tidak nekat, bakal rugi jadi penjahat. Seperti di kampungku dulu, kawan-kawan mencuri rambutan secara berombongan dan membawa karung.
Sialan, lampu merahnya menyala lama sekali! Cakar-cakar matahari begitu liar membobol jaketku, ditambah uap aspal kerontang mengipas-ngipas suasana. Bangsat, kota ini panasnya minta ampun! Gara-gara gedung-gedung kaca yang pongah, oksidasi melebihi ambang batas, pemanasan global dan segala kebiadaban lainnya! Sialan, bisa matang aku kalau begini terus!
Aduh, sampai kapan nyala merah ini berakhir… Belum lagi di depan sana akan ada traffic light-traffic light lainnya. Aku benar-benar bisa telat nih! Bagaimana kalau tiba-tiba hujan dan ada banjir menghadang?
Kulirik angkasa. Langit cerah. Mustahil tiba-tiba hujan deras dan banjir bandang. Ya, ya, ya… aku mengerti jika mendung berbondong-bondong dan bergelagat hendak memberondong Ibukota ini dengan hujannya. Artinya, banjir pasti sudah nongkrong. Banjir di kota yang dihuni oleh banyak kaum intelektual ini seharusnya bikin malu. Sudah jelas hampir setiap tahun kota ini diintimidasi banjir bahkan tahun 2002 kemarin nyaris menenggelamkannya, kok ya bisa terus banjir.
Kirana, hari ini hambatanku bukanlah soal banjir. Jadi kumohon, tambahkan sekilan lagi kesabaranmu. Sekilan saja untuk menahan langkahmu sebelum aku tiba di rumahmu. Aku ingin mengantarmu ke pentas musikalisasi geguritanmu, juga menikmati aksi panggungmu, menyaksikan caramu menyihir penonton dengan …
Kamu memang cantik, Kirana. Percayalah padaku, kamu cantik sekali. Sebab aku sudah menjelajahi kota-kota bahkan kampung-kampung, belum pernah kutemukan cewek-cewek mana pun yang pesonanya menandingi dirimu. Hidung mancung, mata bulat membinar, bibir merah basah merekah, dagu oval, rambut hitam panjang bergelombang, bentuk tubuh mirip gitar akustik di ruang kerjaku, dan tinggi badanmu sepantar denganku. Apalagi olah vokalmu yang dahsyat, dibarengi olah muka yang memikat serta olah gerak tubuh yang bersemangat.
Aduhai, Kirana… Para penonton pasti tersihir! Mereka pasti terpukau seutuhnya. Terlebih kepiawaianmu menghidupkan keakraban bersama para penonton. Ah, mereka pasti ingin menyentuhmu, Kirana. Aku yakin sekali. Untung kamu bukan penyanyi dangdut pinggiran yang hanya suka dan sanggup membakar berahi seperti beberapa penyanyi dangdut di sebuah taman hiburan rakyat. Bukan! Betapa tidak, Kirana! Beberapa penyanyi dangdut bergoyang dengan cara memutar-mutar pinggul perlahan… perlahan… ngebor perlahan… ah… ah… ah… erotis sekali mirip film porno yang pernah kutonton bersama kawan sekolahku. Ya ampun, otak kotor menerorku!
Tapi sungguh, brengsek sekali penontonmu itu kalau sampai mereka nekat menjamahmu, menjamah bagian… Aaaaaah, tidak! Itu tidak boleh terjadi padamu, Kirana! Kamu bukan penari yang menjajakan diri dengan membiarkan orang-orang menyelipkan uang kertas di sela-sela auratmu, apalagi striptease. Kamu adalah Langen Kirana yang sadar adat dan tata susila. Aku tahu itu, Kirana.
Kirana, Kirana, kuharap kamu tidak pernah memakai busana yang serba minim, ketat dan robek sana-sini. Kuharap kamu tahu bagaimana seharusnya berbusana. Kamu ingat petuah lama ”citra diri ada di busana”? Ya, kamu pasti ingat itu. Jangan sampai para lelaki buas itu menjamah dan meremas dirimu hanya gara-gara mereka tergoda oleh busanamu yang merangsang. Aku bisa panas hati, Kirana… terbakar dan hangus.
Oh, Kirana, aku memang harus segera sampai di rumahmu, lalu kita berangkat berdua. Aku juga harus selalu berada di dekat panggung itu, Kirana, untuk turut berjaga-jaga atas aksi asusila penontonmu. Aku tidak sudi kebobrokan para pria jalang sekaligus jangkrik tengik itu menjarah keelokanmu.
Eh, tapi kalau yang menjamahmu itu seorang pejabat besar, public figure, dan kemudian dipampang lebar-lebar di koran? Please, Kirana, jangan sudi membiarkan tubuhmu dipeluk semena-mena begitu. Apa kata orang, Kirana. Apa kata dunia, Kirana. Kontroversi bakal bermunculan. Gosip-gosip selain itu. Dan lain-lain, Kirana. Ingat pesan ibumu. Ingat tata krama pergaulan, Kirana… Bayangkan cikal-bakal aib yang…
Kulirik lagi arlojiku. Waduh, aku harus cepat! Kirana, tunggu sebentar! Sebentar lagi! Tunggu sebentar lagi, aku pasti tiba di hadapanmu, Kirana! Ah, tembang geguritanmu masih terus memanggilku. Aku tahu apa maksudmu. Aku tahu, Kirana, aku tahu. Tapi traffic light sialan ini tidak mau tahu.
Aku berusaha melupakan waktu dengan cara melihat sebelah kanan-kiriku. Beberapa motor bertengger di sekitarku, sama-sama terjebak traffic light ini. Mereka bergoncengan. Laki-laki dan perempuan. Perempuan yang duduk di jok belakang tidak memakai helm. Rambut lurus nan panjangnya menggerayangi punggungnya.
Astagfirullah! Dada si perempuan menempel sangat lekat pada bidang punggung si pria yang menyetir motor. Keduanya enjoy sekali dengan kegiatan tempel-menempel seronok begitu. Keduanya tidak hirau siapa-siapa bahkan seolah tengah memanas-manasi perasaanku.
Aku menoleh ke arah lain saja, lantaran pemandangan semacam itu justru mengiris perasaanku. Sebab yang berikutnya terbayang dalam benakku adalah kemesraanmu bergoncengan dengan bekas pacarmu sewaktu masih kuliah dulu. Dadamu menempel erat pada punggung bekas pacarmu. Aku ingin memaki bekas pacarmu itu. Jelas aku cemburu banget, Kirana.
Kubuang pandanganku ke samping kanan agar kecemburuanku enyah. Sebuah mobil sedan hitam metalik tampak tengah menunggu lampu hijau menyala juga. Kaca jendela kelamnya terbuka. Sopirnya seorang cewek berkacamata hitam. Kutengok di sebelah dan di belakangnya, aku tidak menemukan siapa-siapa. Dia sendirian saja rupanya. Dia pasti tidak sadar aku amati, karena aku juga memakai kacamata hitam.
Aku menoleh lagi ke arah traffic light. Sialan, masih merah! Kulanjutkan memandangi cewek bersedan yang kutaksir usianya sekitar 20-22 tahun. Rambut hitam legamnya lurus melewati bahu. Hidungnya mancung sekali. Pipinya mulus. Bibirnya merah muda merekah. Dagunya ramping. Dengan berkaos hitam you can see, tampaklah pangkal lengannya yang berkulit mulus-kencang dan berwarna kuning cerah. Wah, dia cantik sekali! Bahkan, melebihi kecantikan Langen Kirana!
Kecantikan cewek di mobil sedan mewah itu sungguh… Aaah! Rasa-rasanya aku ingin turun dari motorku, lalu mencabik-cabik wajahnya, tubuhnya dan mobilnya habis-habisan. Pasalnya, dia seakan sengaja merusak fokusku pada Kirana. Tidak! Kecantikan cewek satu ini dan mobil sedannya tidak boleh melampaui kecantikan dan kemewahan Kirana! Eh, tunggu dulu. Apa betul mobil sedannya itu dibelinya dari hasil kerja keras dan halal? Bapaknya konglomerat hitam, koruptor, oknum, banyak utang, ataukah cewek ini perek atau malah istri simpanan pejabat bejat?
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit! Din! Din!
Bebunyi klakson kendaraan-kendaraan di belakangku membubarkan lamunanku. Rupanya lampu hijau telah menyala. Aku segera tancap gas. 0 km/jam langsung melesat ke 70 km/jam sampai lewat 100 km/jam. Cepatlah, Motorku! Kita harus segera sampai di rumah Kirana sebelum mentari tengah hari menjemputnya. Aku ingin menggonceng Langen Kirana-ku, kemudian kupamerkan kepada mereka sebagai semacam peringatan serius supaya para lelaki jalang tidak coba-coba mengganggu Langen Kirana-ku.
Ayolah, motorku, mengertilah. Awas kalau tiba-tiba kamu rewel di tengah perjalanan dengan acara mogok segala. Minuman kesukaannmu kubeli full tank dan selalu begitu, karena mesin dua langkah sekelas dirimu memang rakus. Tapi kini, demi cintaku pada Langen Kirana, aku rela penuhi itu. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Ah, motorku, kamu tidak akan pernah tahu soal cinta sejati dan harga BBM!
*******
babarsariyogya, januari 2003
Catatan:
1) Mengelana di langit biru. Tumbuh mengambang, termenung, samar. Luas lapang tanpa batas. Bahasanya daun kering…Cuplikan geguritan ”Lelana” karya Thanding Sari.
2) Suara instrumen, cuplikan dari geguritan ”Nonton Wayang” karya Thanding Sari.
3) Seribu jalannya mati. Seribu jalannya rejeki. Manusia hanya sekadar melakoni. Dunia ini memang banyak pertanyaan… Dari geguritan ”Sanjange Simbah” karya Thanding Sari.
[cerpen ini dimuat di harian Sinar Harapan, edisi Sabtu, 23 Agustus 2003]
SEEKOR ANJING MENELAN BOM*
Seekor anjing setinggi sekitar 75 cm berdiri tegap di tengah pintu utama restoran mewah itu. Ia menatap satu per satu orang-orang di dalam restoran mewah. Hidungnya kembang-kempis. Jalan nafasnya patah-patah. Lidahnya menjulur-julur. Air liurnya menetes-netes, memantulkan sinar pelangi elektrik dari mana-mana. Bulu-bulunya basah dan ditempeli lumpur. Tidak jelas lagi apakah anjing itu berbulu warna hitam, coklat atau jingga merata. Kuping, mata dan kakinya kudisan seperti kena kutuk kusta.
Orang-orang di dalam restoran itu memandang ke arahnya. Mereka melongo.
“Anjing siapa sih?”
“Entah.”
Anjing itu mengibaskan titik-titik air yang terjebak di sela-sela bulunya. Selesai. Lalu ia menjulur-julurkan lidahnya lagi. Air liurnya menetes-netes terus. Nafasnya terengah-engah. Sesekali lidahnya keluar menyapu moncongnya yang sedikit berbusa di sela-sela. Lalu menjulur lagi.
“Dia mencari seseorang.”
“Mungkin dia mengenal seseorang di sini.”
“Lebih baik tadi kau tidak ikut ke sini.”
“Sialan.”
Perlahan-lahan bau anjing itu merangsek ke dalam ruangan, menggapai hidung orang-orang. Serta-merta mereka menutup hidung masing-masing. Bau menjijikkan. Beberapa perempuan malah muntah. Seorang pelayan segera menutup pintu restoran.
“Oh iya, aku ingat! Anjing tadi… anjing itulah…”
“Benarkah?”
“Ya! Aku ingat ciri-ciri moncongnya!”
***
Subuh telah tertinggal di lantai kamar mandi. Surya timur belum juga bangun dari dekapan selimut kaki langit timur, hanya tangannya masih mengulet manja. Jalan-jalan telah digerayangi kendaraan dengan kecepatan paling kencang yang bisa dilakukan mereka. Di trotoar orang-orang berpakaian rapi, juga ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru tampak berjalan tergesa-gesa. Alunan nafas mereka menderu. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah memburu matahari. Mereka seolah dikejar-kejar matahari. Mereka seolah tidak peduli matahari.
Seekor anjing berjalan perlahan di antara kaki-kaki mereka. Matanya sayu. Dilihatnya orang-orang. Diendusnya aroma tubuh mereka. Ia seolah mencari seseorang. Mungkin sedang mencari perlindungan. Atau, mungkin… Ia tidak menemukan siapa yang dibutuhkannya. Kemudian melangkah lagi.
Ia berhenti di kaki tiang trafficlight, memiringkan bagian belakang badannya, terus mengangkat sebelah kaki belakangnya. Cuuuuuuur. Ia kencing di situ. Sementara ada sepasang mata mengamati anjing itu. Seekor anjing dengan ciri yang pernah didengarnya dari orang lain. Sepasang mata ini yakin bahwa itulah anjing tersebut.
“Awas, ada anjing berbahaya!” teriaknya spontan sembari menunjuk anjing itu.
Semula orang-orang tidak menggubrisnya. Tetapi sewaktu anjing itu menatap garang ke arah mereka dan dengan taring yang menyeruak di celah moncongnya, baru kemudian mereka sadar. Anjing bertubuh cukup besar itu siap mengejar.
“Aaaaaaaaaaaa!”
“Waaaaaaa!”
“Toloooong! Aduh aduh… ada anjing gila! Mati aku!”
“Toloooong! Anakku, anakku… Tolong anakku!”
“Anjing lu! Kagak punya mata ya? Liat-liat dong kalo lari!”
Sontak suasana berubah. Para pejalan kaki kalangkabut. Para pengendara sepeda motor langsung ngebut. Mereka lari tunggang-langgang, meninggalkan apa saja. Anak-anak kecil menangis ribut. Ada yang terjerembab. Ada yang bertabrakan. Pedagang kaki lima meninggalkan gerobak mereka. Beberapa orang malah menjarah makanan yang tak bertuan di gerobak dorong kaki lima. Pertokoan di sekitarnya segera tutup.
Debu-debu beterbangan. Suara klakson, cacimaki dan teriakan bercampuraduk. Orang-orang di dalam mobil dan angkutan kota segera menoleh ke arah pergerakan massa yang panik. Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak. Perempatan jalan berubah kacaubalau. Empat polisi lalulintas terkejut, tidak siap dengan keributan mendadak itu. Tapi anjing itu sudah berlalu dari tempat itu. Lenyap seperti angin.
“Hei, Bung! Jangan main-main! Kau lihat sendiri kan akibatnya?”
“Sungguh, Om, ada anjing berbahaya. Itu, di sana! Barusan mengencingi kaki tiang trafficlight!” sahutnya sambil terus berlari kencang.
“Kau tahu dari mana?”
“Dari mereka yang pernah makan di restoran itu. Ciri-cirinya ya begitu itu!”
“Waaaaaaa!”
Teriakan tadi menyebabkan pergerakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua makin kencang. Panik, takut, khawatir, jijik dan lain-lain menulari sekitarnya. Jumlah polisi lalulintas yang minim terpaksa meninggalkan pos penjagaan, lalu turun ke jalan.
“Mungkin ini politik bisnis yang kotor.”
“Betul, Om, anjing itu kotor sekali, kata mereka.”
“Bukan itu. Ini sebuah permainan bikinan pesaing restoran itu.”
“Permainan? Silakan saja kalau Om mau bermain-main dengan anjing itu.”
“Busyet lu!”
***
Di halte bis dan stasiun kereta penuh orang-orang orang-orang berpakaian rapi, ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru menanti-nanti. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah menunggu matahari melintas. Mereka seolah tidak menginginkan matahari muncul sebelum mereka meninggalkan halte dan stasiun itu.
Tulalit! Ning! Tulalit! Nong! Suara handphone. Seseorang meraihnya dari kalungnya. Ngobrol sebentar, kemudian dahinya berkerut. Matanya segera menyapu sekitar. Nafasnya mengalir cepat. Detak jantungnya pun terimbas. Tak ayal suara seseorang itu terpatah-patah. Kemudian dia berhenti berkomunikasi.
“Kamu tadi lihat di sekitar sini ada anjing, nggak?”
“Anjing? Anjing penguasa atau anjing konglomerat maksudmu? Preman?”
“Hush! Bukan. Anjing ya anjing!”
“Enggak lihat tuh. Emangnya kenapa?”
“Anjing itu… Kata kawanku, seekor anjing gawat telah berkeliaran!”
“Haaaaah!!”
Halte bis dan juga stasiun kereta api tiba-tiba gempar. Para calon penumpang kocar-kacir, dan segera menghentikan apa saja; entah bis apa saja, metromini apa saja maupun kereta apa saja. Pedagang kaki lima tidak peduli dengan dagangan mereka; mau dijarah, ditendang atau pun dibiarkan, asalkan segera menyelamatkan diri. Semua orang tidak mau mengalami masalah terburuk sepanjang hidup mereka.
“Hoi, Mas, Mbak! Awas, ada anjing berbahaya! Menyingkirlah segeraaaaaa!”
Laki-laki itu segera menoleh ke sumber suara. Lalu kembali menghadap istrinya yang sama-sama berdiri di ujung stasiun. Kemudian laki-laki itu menarik tangan istrinya beserta beberapa tas besar mereka.
“Ayo lekas minggat! Ada anjing berbahaya.”
“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.
“Ada anjing berbahaya! Kita harus segera pergi dari sini.”
“Anjing gila, maksud Mas?”
“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”
“Lha iya. Mungkin anjing gila.”
“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”
“Sudah, sudah! Aku bisa gila betul kalau bicara begini dengan Mas! Eh, tapi kita mau pergi ke mana lagi, lha wong kita baru pertama kali ini datang ke sini.”
“Walahiyung! Modar aku!”
***
Bulan menyapa ketakutan mendadak kota itu sejak kemunculan anjing itu. Tidak ada para pejalan kaki, kaki lima, pengemudi kendaraan roda dua dan roda tiga. Hanya mobil yang berani melintas. Itu pun dengan kecepatan tidak seperti biasa. Mereka tidak mau mengambil resiko terburuk dalam hidup, karena anjing itu munculnya mendadak
Selain itu, sejak kemunculan anjing yang serba mendadak dan sukar ditemukan jejak tegasnya itu setiap rumah memasang pagar besi setinggi-tingginya, dan selalu tertutup rapat. Untuk rumah-rumah tanpa halaman, tentu saja pemasangan pagar adalah pengecualian. Tak pelak usaha perakitan pagar besi dirundung untung berlipat-lipat, sehingga mulai merebak usaha sejenis di mana-mana.
Tak lupa pula pemerintah setempat mengerahkan pasukan pemburu anjing dan petugas penjinak anjing. Pasukan khusus itu disebar ke segala penjuru kota bersama anjing-anjing pelacak. Di samping itu wajah kota mulai disemarakkan oleh gambar tempel dan pamflet tertulis “Awas, Ada Anjing Berbahaya!”, lengkap dengan profil anjing itu. Beberapa media massa pun turut mempublikasikan peringatan serupa.
Pengerahan pasukan penjinak anjing itu pun berdampak serius bagi ketentraman hidup anjing-anjing di kota itu. Terjadilah pembantaian terhadap anjing-anjing yang tak berdosa. Setiap anjing yang kedapatan liar di jalanan; entah memang anjing liar maupun anjing milik siapa, langsung ditembak tanpa ampun. Tidak ada interogasi macam-macam. Akibatnya, setiap hari selalu terpampang mayat anjing bergelimpangan di jalan, halaman rumah, emperan pertokoan, taman kota, halte, terminal, stasiun, pasar ikan atau area-area publik lainnya. Tak ayal para pemilik anjing atau penyayang anjing segera mengurung anjing mereka di dalam rumah.
Sementara anjing yang paling dicari-cari itu terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan. Kepalanya digeletakkan begitu saja di potongan sampul majalah bergambar perempuan nyaris bugil. Mukanya murung. Dipandanginya trotoar yang lengang tersiram lampu mercuri. Ia hanya bisa mendengar lolongan histeris anjing-anjing di dalam rumah-rumah orang. Terkadang ia mengungsi entah ke mana.
***
Di sebuah laboratorium, mata para peneliti yang tengah mengamati contoh air liur, kencing dan tinja anjing itu mendadak terbelalak. Dari ketiga contoh hasil ekresi anjing itu mereka menemukan suatu zat aditif yang sama, yakni mengandung bahan radioaktif yang biasa dipakai untuk bahan peledak. Seketika itu juga mereka melaporkan penemuan darurat itu ke bagian pertahanan dan keamanan kota.
Entah siapa dan bagaimana bisa, berita tersebut langsung bocor di media massa. Maka tersiarlah kabar di mana-mana, baik lewat media tersebut maupun sudah dalam format pamflet atau spanduk lebar mengangkangi jalan-jalan. Mal, swalayan, shopping center, pertokoan, perkantoran, sarana-sarana pendidikan, rumah ibadah, halte, terminal, stasiun, kafe, discotique, nite club, karaoke, panti pijat, lokalisasi dan tempat-tempat apa saja otomatis sepi. Suasana kota betul-betul mencekam. Betapa tidak. Seekor anjing telah menelan bom yang masih sangat aktif dan setiap detik bisa meledak. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai radius 1 km dengan meninggalkan sebuah lubang berdiameter seratus meter dan kedalam beberapa belas meter.
“Anjing milik siapa sih sebenarnya?”
“Mungkin milik teroris untuk meninggalkan jejak.”
“Teroris memakai anjing?”
“Nggak apa-apa, kan. Yang penting kan misi tercapai.”
“Eh, jangan-jangan anjing itu milik aparat. Entah sengaja atau tidak anjing itu menelan bom. Tapi entahlah, karena anjing itu belum tertangkap, belum diinterogasi.”
“Jangan-jangan, anjing itu milik seorang elit politik yang sedang bermasalah. Barangkali ada motif kepentingan tertentu. Apalagi sudah ada isu kampanye.”
“Ah, aku nggak tahu ah. Mending mikir, kapan kita bisa kerja lagi.”
Sejalan dengan kalimat tersebut, anjing yang telah diidentifikasi ‘menelan bom’ itu tenang melintas di ujung gang dekat mereka nongkrong. Sontak mereka melotot, memastikan apakah itu anjing yang meresahkan kota. Setelah yakin, mereka langsung bergerak. Seorang lainnya segera melaporkan berita tersebut ke aparat terdekat.
“Itu dia! Itu dia!”
“Kejar!”
Anjing itu mendengar teriakan mereka. Ia langsung lari sekencang-kencangnya, berbelok ke lorong-lorong, lalu menghilang dalam gorong-gorong.
“Kejar? Apa kita mau mati konyol?”
“Iya ya, kalau tiba-tiba bom di perutnya meledak, tamatlah riwayat kita.”
“Aku masih doyan hidup. Mending kabur dari kota sialan ini!”
***
Kereta Senja Ekonomi meninggalkan stasiun kota. Kali ini gerbong betul-betul sarat muatan. Orang-orang berjubel seperti hendak mudik lebaran atau masa berlibur sekolah menjelang tahun ajaran baru, bahkan tidak sedikit yang nekat duduk di atap gerbong, walau sudah ditambah beberapa gerbong. Mereka ingin pulang dulu sebelum anjing yang menelan bom itu tertangkap. Sebab, selama anjing itu masih berkeliaran, muncul tiba-tiba dan sukar dideteksi, nyawa mereka jelas terancam setiap saat.
“Keparat betul anjing itu. Masak belum apa-apa kita sudah pulang lagi. Masak orang kalah ama anjing. Apa kelak kata tetangga kita. Dasar anjing siluman!”
“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.
“Ah, barang utangan itu terus saja kamu dengarkan! Ini soal anjing bangsat itu!”
“Iya, Mas, barang utangan ini gimana ngelunasinnya. Belum utang lainnya.”
“Anjing betul anjing itu! Nggak bisa lihat orang mau sukses!”
Istrinya tidak menanggapi. Ia agak risih dengan umpatan-umpatan yang selalu begitu ringan melayang dari mulut suaminya. Untuk mengalihkan gerutuan suaminya, ia menekuk tubuhnya ke kolong tempat duduk mereka, pura-pura mencari sesuatu.
“Maaaaaaaas…. Asssss……..!” Mukanya pucat.
*******
babarsariyogya, 2003
*) terilham dari sajak "Narasi Anjing yang Menelan Bom" karya Nanang Suryadi, 2002
[cerpen ini ikut menang di Lomba Menulis Cerpen Hadiah Tepak Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis Riau, 2003, dan berita hasil lombanya dipublikasikan oleh Riau Pos, 18 Agustus 2003]
OLEH-OLEH DARI KAMPUNG
“Kok kini kamu nggak berminat lagi pada politik, Noy?” tanya Oji suatu hari.
“Bosan, Ji. Bikin pengen muntah saja! Politik sudah banyak peminat, penikmat, pengamat dan pengkhianatnya,” jawabku santai. “Itu-itu melulu. Omong kosong doang.”
Aku mengerti, pertanyaan yang dilontarkan kawanku itu merupakan pertanyaan murni. Murni dari keheranannya atas sikapku sekarang. Bukan mempertanyakan, menggugat atau memprotes perubahan sikapku akhir-akhir ini.
“Aku memilih untuk realistis, Ji, bekerja demi masa depan anak-anakku.”
“Itu pun salah satu sikap politik, Bung!”
Mau dianggap semacam “sikap politik” atau apa kek, terserah. Yang jelas, bagiku, politik tidak lebih dari panggung sandiwara. Para politikus itu hanya memerankan tokoh sesaat demi kepentingan sesaat. Lantas berubah lagi menjadi tokoh lain dalam episode-episode dan tema-tama lainnya, tergantung siapa sutradaranya. Mudah mencampakkan atau menggandeng, menjadi kawan atau lawan. Bongkar-pasang dan gonta-ganti rekanan. Yang penting, kesempatan dan kepentingan, serta aman di masa tua.
***
Oji memang tahu masa mudaku dulu. Aku selalu bangga mengenakan kaos bertuliskan “Di sini Bebas Ngompol (Ngomong Politik)”, “Jangan Takut Bicara Politik” dan “Sak Beja-Bejane Uwong Urip, Luwih Beja Uwong Edan Ning Kuasa”, di saat rezim otoriter mencengkramkan kuku-kuku tajamnya pada setiap sendi kehidupan sosial masyarakat yang seolah memproklamirkan “Politik adalah Panglima”.
Memang, semasa muda, semasa mahasiswa, aku paling getol berceloteh soal politik, meski aku bukan mahasiswa fakultas ilmu politik. Aku sendiri sudah berlangganan koran dan majalah sosial terkemuka di saat kawan-kawan kos lebih tertarik pada pacaran, keluyuran di mal, diskotik, bilyar, nonton vcd serta judi kecil-kecilan di salah satu kamar kos kawanku.
Tak jarang aku tiba-tiba berkomentar mirip komentator di televisi. Bagiku, menjadi komentator politik, tidak usah susah-susah bersekolah di jurusan politik atau berkecimpung langsung sebagai praktisi politik. Bahkan tidak usah susah-susah sekolah di jurusan komentator.
Waktu itu politik merupakan topik yang agak tabu, lebih tabu daripada bacaan cabul serta gambar porno yang bertebaran di kalangan orang muda. Ketika era internet melanda pergaulan masyarakat, mahasiswa-mahasiswa mencari informasi-informasi yang tidak termuat di media massa umum. Semakin kuat tindakan represif penguasa, semakin kuat naluri keingintahuan mahasiswa.
Aku pun tidak mau ketinggalan informasi. Kawan-kawanku selalu datang dengan membawa beberapa fotokopian berita-berita “tak tersensor”. Majalah Independen menjadi salah satu sumber obrolan kami. Namun aksi sempat surut ketika terjadi kasus pembredelan media massa yang dicap PKI, dan mahasiswa mengadakan aksi tiarap.
Menjelang reformasi, kepada kawan-kawanku kukatakan, “Maaf, aku mendahului kalian menyambut reformasi. Inilah reformasi sesungguhnya bagiku, Kawan-kawan.”
Reformasi versiku adalah segera menikah, setelah lulus dan menunggu panggilan kerja. Aku menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak peduli soal politik. Aku tidak menuduhnya buta politik. Dan salah satu sebab kenapa aku menikahinya adalah karena aku tidak mau membiarkan hiruk-pikuk perpolitikan itu hanya akan menggerogoti usiaku.
***
Bersamaan dengan masa bulan maduku, saat itu pula gerakan mahasiswa bangkit lagi. Tindakan aparat lebih ngeri lagi. Aparat yang berjubah zirah, berhelm, bersenjata dan berperisai itu garang sekali mengganyang para mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa seraya membakar ban-ban bekas di jalanan. Ngeri aku melihat itu semua. Bahkan pernah suatu malam terjadi “jam malam” dan malam terkelam tanpa lampu. Aku pun harus mematikan lampu vespaku agar tidak tiba-tiba disergap orang-orang misterius.
Aku ingat sekali. Jalan Gejayan gelap gulita. Lampu-lampu jalan bertumbangan. Batu-batu dan kayu bertebaran. Kaca jendela bekas gedung Bank Harapan Sentosa hancur lebur. Itulah malam paling mencekam yang mengotori bulan maduku.
Aku menganggapnya sebagai sebuah teror sesungguhnya. Subyeknya murni diperankan aparat dan rakyat. Obyek pelengkap penderitanya adalah para korban, entah seberapa jauh keterlibatan korban tersebut. Semalam suntuk pasukan pengendali kerusuhan menyisiri rumah-rumah penduduk dan kos-kosan mahasiswa di sepanjang jalan Gejayan. Beberapa mahasiswa ditangkap, digebuk dan diculik. Bayang-bayang ketakutan, kengerian, kebringasan, kebencian melanda setiap sudut jalan. Moses Gatotkaca gugur.
Waktu itu dari kampung Sri Pemandang Pucuk ayahku mengirim pesan, menyuruh aku dan istriku pulang saja ke Bangka. Kata ayahku, setiap hari emakku gelisah memikirkan nasib aku dan istriku. Daripada ada apa-apa di Jogja, mending pulang saja ke kampung halaman dan memulai kehidupan baru. Namun aku tetap bertahan.
Sampai ketika reformasi ramai digaungkan, berita dan ulasan politik semakin banyak peminatnya. Menu lezat harian sebagian orang. Bahkan mereka kecanduan seperti halnya kecanduan narkotika. Barangkali politik sudah menjadi semacam pil ektasi, yang dapat membuat pemakainya senang sepanjang waktu sampai-sampai lupa waktu.
***
Keluargaku terbangun atas kesadaran aku dan istriku. Tidak terbangun atas kepentingan-kepentingan sepihak. Dua pribadi, yaitu aku dan istriku, sepakat bersatu dalam satu tujuan utama sebagaimana sebuah keluarga. Anak-anak yang kumiliki bukanlah supaya mereka bisa menafkahi keluarga ibarat pepatah jawa “kebo nyusu gudel” alias “induk kerbau menyusu pada anaknya”. Kalau aku punya utang, aku dan istriku harus mencari tambahan penghasilan untuk melunasinya, bukannya mewariskan utang pada anak-anakku. Jika anak-anakku kelak memang mampu, tetap saja aku dan istriku malu kalau anak-anakku yang harus membayar utang keluarga di masa lalu.
Media langganan kami sekeluarga pun sudah naik harga, menyusul kenaikan harga tarif listrik, telepon dan bahan bakar minyak. Belum lagi biaya harian rumah tangga, seperti pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Kenaikan rupiah atau penurunan nilai tukar uang Amerika ternyata tidak kemudian menurunkan harga-harga yang sudah telanjur naik itu. Yang namanya keuntungan atau laba, siapa pun tergiur dan memakai berjuta alasan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan keuntungan. Apalagi kondisi gaji yang tak jua dientaskan.
Seringkali aku menggerutu pada koran langgananku itu. Isinya berita politik melulu. Isinya kerusuhan melulu. Isinya teori nihil melulu. Isinya omong kosong belaka. Aku membayar uang langganan bukan untuk menikmati simpang siur siaran politik atau juga berita-berita yang menakutkan keluargaku. Politik tidak menyajikan kemajuan apa pun terhadap kesejahteraan keluargaku. Menambah wawasan sosial-politik tidaklah menambah pendapatan keluargaku. Banyak mengerti perkembangan politik, tidak lantas banyak meringankan beban biaya penghidupan keluargaku.
Aku ingat, dulu betapa jengkelnya orangtuaku melihat aku ikut-ikutan anti monopoli partai besar jaman itu, sampai-sampai emakku bilang, “Kita selama ini makan dari partai pemerintah, bukan dari partai lainnya.”
Tak pelak nyaliku ciut mirip kura-kura manyun kehilangan rumahnya. Emakku lebih berpikir kenyataan tentang rumah tangga beserta kebutuhan harian keluarga, daripada membentuk oposisi di rumah.
Tak pelak politik menjadi topik yang paling menjijikkan bagiku. Bukan sebatas tayangan harian media kaca di rumahku, baik dari berita maupun dialog-dialognya. Kebetulan anak-anakku lahir saban tahun, sehingga aku ada kesibukan di rumah. Setiap hari selalu kupasang lagu anak-anak. Televisi jarang kunyalakan. Istriku senang sekali.
***
Di lingkungan tinggal kami, saban malam “politikus-politikus” muda mengudarakan obrolan politik. Pemuda-pemuda itu asyik-masyuk berembuk soal politik, bahkan seolah melebihi pakar politik. Minat mereka sangat menggebu-gebu pada politik beserta isu-isunya. Reformasi memungkinkan politik tak lagi tabu.
Ah, mungkin mereka cikal-bakal politikus besar, kendati kesempatan belum sempat mengundang mereka tampil. Mungkin obrolan politik sekadar obat begadang setelah seharian suntuk didera pekerjaan mereka. Maklum, mereka cuma pekerja kasar dengan gaji yang selalu disertai bonus muka kecut bos mereka. Mungkin persaingan mereka dalam pengetahuan umum. Mungkin mengasah kepekaan setelah membaca, mendengar atau melihat sajian berita, entah dari mana mereka memperoleh sumbernya.
Kulihat sisi baiknya pembicaraan tersebut lebih menyita waktu dan pikiran mereka, daripada terlibat kegiatan merusak akhlak, merusak fasilitas umum dan tindakan kriminal malam. Di samping itu, acara kumpul-kumpul itu pun bersamaan dengan aneka kegiatan pemuda. Dari olahraga, kesenian, budaya, membuat spanduk, bagi-bagi kerjaan maupun sekadar meramaikan obrolan, semuanya bercampur aduk dengan politik. Terlebih sejak daerah kami dibanjiri pendatang, yakni mahasiswa yang kos.
Kawan-kawan kantor pun terus saja bicara tentang politik, melebihi pekerjaan rutin mereka. Setiap sebentar membaca judul berita halaman muka koran, segera mereka berkomentar. Pekerjaan belum juga selesai, pembicaraan mereka sudah sampai mengenai rumah para politikus.
Kupikir, mungkin mereka salah bidang pekerjaan. Mungkin mereka kecewa karena tidak kesampaian menjadi politikus. Mungkin untuk gengsi antarpegawai. Mungkin sekadar selingan, mencari hiburan, yang bagi mereka politik itu seringkali menyuguhkan kelucuan-kelucuan dan dihiasi kening-kening berkerut untuk mempertahankan argumentasi mereka.
Makanya, aku bosan bicara atau sekadar mendengar obrolan seputar hiruk-pikuk politik. Sekarang ini perhatian, tugas dan tanggung jawabku sebagai kepala keluarga, warga biasa dan pegawai kantor tidak boleh diserongkan pada urusan politik milik orang-orang. Mengurusi rumah dan pekerjaanku saja aku sudah kelabakan, apalagi perpolitikan Bangsa ini selalu berubah-ubah serta belum berhasil menemukan formasinya.
***
Suatu hari Minggu siang sepulangnya kami sekeluarga dari kebaktian di gereja, Makcikku (adiknya emakku) dan kedua anaknya berkunjung ke rumah kami. Beliau datang dari kampung pelosok Bangka, bersama tetangga beserta tiga anaknya pun ikut, karena ingin menikmati kehidupan ini, bahwa memang dunia ini tidak seluas kampung halaman mereka belaka. Rencananya mereka akan tinggal beberapa hari di rumah kami.
Tak lupa Makcikku membawa oleh-oleh dari kampung, oleh-oleh khas Bangka, yang membuat hatiku terseret ke suasana kampung halaman yang sedap. Sahang sekarung kecil, sisa tuai bulan lalu. Lempuk cempedak, manisan rukem, asinan klubi, asinan jambu bandar, keranji, kemunting, sambel binjai, juga ada selai nanas. Sedap tentunya. Ya, suasana kampung yang hanya menyuguhkan pola pikir sederhana, tidak susah-susah berpikir urusan selain makan dan pergaulan sekampung.
Makcikku berkisah pula tentang kemajuan kampung semenjak harga-harga sahang melambung dan kebun-kebun kelapa sawit dibuka. Dibarengi pula dengan pelebaran jalan, penambahan angkutan umum lintas kecamatan dan pembangunan rumah-rumah baru bagi pekerja perkebunan kelapa sawit.
Kata Makcikku, para pemuda di sekitar kebun sudah tersalurkan. Tidak ada pemuda menganggur. Aku jadi malu, sebab jauh berbeda dengan di daerah kami. Di daerah kami, bukan kampung tapi kota pun bukan, sebagian besar pemudanya memilih menganggur seraya terus menghidupkan sejuta khayalan setinggi-tingginya kendati pendidikan mereka lebih tinggi dibanding pemuda-pemuda kampung Makcikku.
Kata Makcikku lagi, di kampungnya saban awal bulan selalu ada keramaian, seperti pasar malam, pentas kesenian rakyat, teater dan pagelaran musik. Tokoh masyarakat kampung mengundang beberapa seniman daerah lainnya. Kalau soal hiburan berteknologi mutakhir, mereka tidak mau ketinggalan. Hampir setiap rumah memiliki televisi, perangkat parabola, vcd player dan playstation.
“Eh, mana tadi anak-anak itu?” celetuk tetangga Makcikku.
“Main di luar dengan anak kami. Paling-paling mereka main game internet di depan itu,” sahut istriku sambil menunjuk ke arah jendela depan.
“Main gem? Wah, anakku pilih nggak makan sehari kalau sudah main gem,” serobot Makcikku.
“Sama dengan anakku!” sela tetangga Makcikku pula. “Kalau sudah ketemu gem, bisa-bisa nggak belajar dia. Maunya main geeeeeeeeem terus.”
“Aku sih curiga. Ini mungkin salah satu akal-akalannya politik warisan orde lalu. Anak-anak sengaja dijejalkan dengan permainan-permainan modern. Lihat aja. Buku-buku bermutu dilarang beredar dan media massa kritis diberangus. Tapi kalau permainan ketangkasan macam itu, justru tumbuh subur berhamburan semacam jamur di musim hujan. Apa lagi kalau bukan untuk membodohi generasi muda.”
Akal-akalannya politik warisan orde lalu? Untuk membodohi generasi muda? Aku menoleh ke arah istriku. Kebetulan istriku pun menoleh ke arahku. Aku dan istriku saling berpandangan. Air mukaku kubikin agak runyam, sebagai isyarat bahwa aku agak risih pada bincang-bincang seputar politik. Istriku mengangkat bahunya. Apa boleh buat. Aku dan istriku kembali diam dan melongo mendengar diskusi mereka.
“Iya, benar. Persewaan playstation di kampung kita selalu dipadati oleh anak-anak setiap jam-jam pulang sekolah. Berjam-jam duduk bermain gem, boros waktu. Malas bikin PR. Belajar jarang. Dalam otak hanya ada gem-gem aja!”
“Nggak kayak jaman kita dulu, ya,” kata Makcikku. “Jaman kita dulu anak-anak sudah dibiasakan membuat apa-apa. Menjahit, pelihara kembang, berkebun, bikin kerajinan, membantu ibu di dapur. Para cowoknya juga rajin. Bikin mainan sendiri, melukis, main bola, berkebun. Pokoknya, nggak ada yang duduk sembari menghadap kotak kaca dengan hati penuh kepenasaran yang cuma memboroskan hari.”
“Makanya, akal-akalannya orang-orang tua yang berambisi mempertahankan status mereka sekaligus merusak daya nalar generasi muda bahkan anak-anak. Dasar politikus, banyak tikus!” tandas tetangga Makcikku itu.
“Bagaimana kalau kita, para ibu-ibu, turun ke jalan? Kita gugat kebijakan birokrasi yang telah turut membidani kelahiran ‘generasi terhilang’ yang tengah marak ini. Sepakat? Sepakat?” tawar Makcikku pada tetangganya, lalu menoleh ke arah istriku.
Mendadak aku merasa kepalaku bagai ditinju ribuan palu, dan perutku terasa tidak nyaman. Ada yang tidak beres dalam perutku. Aku dan istriku saling melirik. Kuisyaratkan bahwa aku pening mendengar soal itu, dan aku mau ke belakang dulu. Entah istriku mengerti atau tidak pada bahasa isyaratku, aku bangkit dari kursiku.
“Makcik terus saja dulu, ya,” selaku.
“Lho, mau ke mana?”
“Ke belakang sebentar. Sebentar saja,” jawabku seraya segera kutinggalkan perbincangan seru mereka. Aku sudah tak tahan lagi.
Di kamar mandi aku muntah sepuas-puasnya sembari terbayang raut muka Oji.
*******
Jogjakarta, 2000-Mei 2002
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 17 Agustus 2003]
PANASNYA PAGI
“Dasar bajingan!”
“Bunuh saja!”
Buk! Tok! Plak!
“Kalau mati?”
“Bagus mati wae1)!”
“Eh, kalo mati, siapa yang bakal nyembahyangi?”
“Masa bodoh! Bantai aja dulu!”
“Tolooooong! Ampuuun, Mas!”
“Ampun matamu, ‘Su 2)!”
Lalu pletak! Plak! Buk!
Walah! Pagi-pagi begini sudah pada ribut-ribut, pakai caci maki lagi, gerutuku. Orang tengah nyenyak-nyenyaknya menikmati puncak suasana pagi, diganggu.
Aku segera bangun, telanjur digugah oleh ribut-ribut di luar sana. Kukucek-kucek mataku, agar beloboknya gugur. Lalu aku bergegas keluar kamar. Serta-merta sinar surya pagi menyambutku dan juga menerobos pintu kamarku yang terkuak.
Di luar sana, di jalan depan kosku agak ke perempatan, suasana tampak ramai sekali. Caci maki berhamburan. Orang-orang berdatangan. Orang-orang bergerombol. Orang-orang berdesakan. Mereka mengerumuni sesuatu yang beraroma kekerasan. Beberapa kendaraan berhenti. Beberapa anjing ada di sekitarnya. Anak-anak yang mau berangkat sekolah pun malah berhenti sejenak. Semua menonton adegan kekerasan di pagi yang sejuk itu seolah menonton film laga atau tarung bebas di televisi.
“Iiih, kasihan ya,” bisik seorang gadis di luar arena kerumunan.
“Ho’oh. Padahal sudah minta ampun segala lho,” sahut kawannya.
Lima pemuda begitu beringas. Di antaranya ada yang membawa kayu. Ada pula yang sedang menendang badan bahkan kepala seseorang. Ada yang menghantamnya dengan benda tumpul sekeras tenaga. Yang lain bersiap-siap memukul lagi. Mereka bergairah sekali seolah berolah raga pagi. Caci maki pun terus terlontar liar.
Aku merangsek ke kerumunan orang-orang. Maka kutengok seseorang itu. Laki-laki muda. Tubuhnya terkapar dengan darah menodai pakaian dan kepalanya.
Seseorang di antara para penganiaya datang mendekati tubuh terkapar itu. Dia jongkok, lalu menjambak rambutnya. “Dasar bajingan! Nyolong barang milik kawan sendiri. Dasar maling, tetap aja maling! Asu tenan 3)!” makinya.
Lalu, buk! Muka maling itu dibenturkan ke jalan aspal. Darah meleleh lagi.
“Eh, asu ndak suka nyolong.”
“Lha yang ini asu edan 4)! Bajingan tenan!”
Aku yang telah trenyuh sejak kata-kata umpatan menggugah sisa tidurku dan ditambah caci maki itu, kini hatiku semakin remuk menyaksikan penghakiman jalanan mereka. Street justice ala pinggiran kota. Manusia sudah tidak berharga. Mirip tikus pasar yang kedapatan mencuri seekor ikan teri. Entah kesalahan, entah kebodohan, kenapa menjadikan dirinya sendiri sebagai maling. Pelecehan terhadap martabat sendiri, bukan cuma karena kekerasan orang lain. Walhasil, dia babak belur.
Pasti dia ini malingnya, tebakku. Pasti dia yang telah memancing kekerasan di kesejukan fajar. Pasti dia yang telah menyajikan sarapan pagi mengenaskan ini. Tapi, dia maling apa sehingga harus remuk-redam begitu. Mungkin maling duit, arloji, telepon seluler, jemuran, sepeda motor, tip dek bersusun tujuh, tipi, komputer atau kulkas.
“Maling apa dia, Ji?”
“Maling sandal, Naf. Pagi-pagi datang ke kos, pura-pura cari siapa.”
“Ya cari sandal itu!”
“Ndak tahunya, eeee nyolong sandal barunya Doddy!”
Aku tahu, maling itu memang pernah main ke indekosan kawanku. Pasalnya, dia masih satu kampus dengan kawanku, meski sebenarnya mereka berkawan jauh. Malam sebelumnya dia sudah berkunjung ke situ, diajak oleh kawannya yang lain. Si pengajak itulah yang justru satu kelas dengan salah seorang yang indekos di situ. Perkawanan berlanjut alami. Lazimnya orang muda berkumpul dan bersosialisasi, tidak akan disertai benih-benih kecurigaan. Apa yang patut dicurigai. Lagi pula, mana mungkin awal sebuah perkawanan akan segera diisi dengan prasangka-prasangka negatif. Tapi yang jelas, peristiwa tersebut terjadi juga. Penganiayaan.
Cuma gara-gara sandal? Aku geleng-geleng kepala. Bagaimana dia nekat melukar kemanusiaannya yang beradab menjadi maling, cuma gara-gara sandal? Alangkah rendahnya dia memandang hakekat manusia, sebuah ciptaan paling mulia di dunia. Ah, sayang sekali!
Itulah, hanya gara-gara sepasang sandal baru bermerek terkenal, trendi dan mahal. Hanya gara-gara benda yang setiap hari muncul di televisi dan terpajang di etalase toko sepatu. Sepasang sandal ternyata telah mempesona bahkan membius maling itu. Sepasang sandal bagus telah meremukkan muka dan tubuh mahasiswa maling itu.
Dan saat surya berseri-seri melambai di ufuk timur sana kekerasan telah nyata memulai hari dan menyambar pikiran segar manusia. Tentu saja manusia-manusia itu adalah para pelajar belia yang masih asyik menonton. Mereka pasti sudah merekam tontonan kekerasan yang hidup, tontonan bukan rekayasa siapa itu.
Caci maki. Pukulan bertalu-talu. Anggota tubuh terbentur benda keras. Jerit minta ampun. Air kencing. Darah. Aaaah… Aku tidak sanggup membayangkan apa saja isi kesadisan dalam otak segar para pelajar yang jelas-jelas menyaksikan setiap detail kekerasan yang dipraktikkan oleh beberapa mahasiswa tadi.
Aku tidak tahan lagi. Batinku terlalu lembut untuk mencerna kekerasan nan sadis itu. Aku membalikkan badanku, hendak meninggalkan mereka. Kuayunkan kakiku.
“Lho, Naf! Munaf! Mau kemana? Pesta belum bubar. Masih ada finalnya nih!”
“Final? Final apaan, Ji?” tanyaku sembari menoleh ke belakang, ke arah Oji.
“Kita ‘kan belum membakarnya. Doddy baru nyari bensin atau minyak tanah.”
“Jangan!” potongku. “Nanti perkaranya tambah parah!”
“Ya, jangan! Jangan khilaf begitu!” timpal seorang pria, entah siapa. “Hanya Allah yang berhak atas nyawa maling itu. Kalau kamu nekat melenyapkan nyawanya, niscaya kamu digugat di pengadilan akhirat!”
Oji tidak menggubris. Kawan-kawannya juga tidak peduli. Hati nurani entah telah kemana. Pikiran dan perasaanya entah kemana. Sedangkan aku semakin ngeri membayangkan jika mereka betul-betul jadi membakar maling malang itu hidup-hidup. Padahal orang itu hanya mencuri sandal. Berapa sih harganya sandal? Anggaplah sekitar dua ratus ribu. Cuma dua ratus ribu rupiah ia harus mengalami pengadilan begitu hingga harus ditebus dengan nyawa jika dibakar? Wah, bagaimana dengan yang sudah mencuri uang rakyat atau uang negara dengan jumlah ratusan juta sampai trilyunan rupiah? Ah…
Sang surya cemerlang menggelinjang di ufuk timur. Aku betul-betul tidak sanggup kalau harus menyaksikan suatu pembakaran tubuh secara hidup-hidup begitu. Kuputuskan segera pulang ke kosku. Terserah apa tanggapan kawan-kawanku itu. Mereka mau bilang aku seperti apa, aku tidak peduli. Selain itu, aku merasa tubuhku disergap gerah teramat sangat. Aku ingin mandi. Aku ingin menghapus serpihan-serpihan kesadisan dengan guyuran air dan tersapu sabun mandi. Aku tidak mau peristiwa itu menyelinap lewat pori-pori dan inderaku lantas menyatu dalam diriku.
“Mmm… ada apa, to, Mas?” tanya pacarku yang tengah mematut diri di depan cermin kamarku ketika aku sampai di kamar kosku. Tubuhnya berbalut handukku. Aroma sabun menyeruak dari tubuhnya dan menebar harum pada kamarku.
“Maling ketangkap basah.”
“Tadi Mas ndak cuci muka dulu?” tanyanya seraya menoleh ke arahku.
“Nggak. Males sih. Masih pagi juga. Lagian, mukaku masih tetap tampak lebih klimis kok, dibanding muka maling malang itu.”
Pacarku menggerakkan kepalanya dan mencibirkan bibir ranumnya padaku.
“Jadi, pesta kekerasannya rampung, Mas?”
“Belum. Oji dan Doddy mau membakarnya! Gila, nggak?!”
“Lho, itu ‘kan pembunuhan? Edan tenan! Ndak berperikemanusiaan banget.”
“Terserahlah. Urusan mereka. Biar mereka tanggung sendiri dosa mereka.”
“Mending Mas mandi dulu, mumpung belum siang banget.”
“Bener! Mending aku mandi. Terus, kita ehem lagi. ‘Kan asyik pas dingin-dinginnya pagi begini, sekaligus untuk sarapan dan olahraga pagi, Sayang,” kataku sembari mencium rambut lurusnya yang lentur nan harum semerbak lantaran ia habis keramas juga.
“Aaaa, Mas Munaf ini… Masih mambu 5), udah asal sosor aja!”
“Tapi suka, kan?”
Pacarku melotot. Sedangkan semangatku kembali bangkit membara melihat pacarku baru usai mandi dan harum begitu. Tadi, sewaktu aku keluar dan menyaksikan adegan kekerasan kawan-kawan, kulihat ia masih tergolek dengan busana minim di kasur busaku yang bersprei semrawut. Sudah dua malam rekan mahasiswiku ini menginap di kosku. Sebelum-sebelumnya ia sering juga menginap di kosku, apalagi kalau pulang kuliah atau juga usai kegiatan senat di kampus. Kosku memang bebas, karena induk semang tinggal agak jauh dari kosku dan tidak ada yang dipercaya menjaga kedisiplinan dan perilaku kos. Sesama penghuni kos pun tahu sama tahu dan tidak suka usil pada urusan orang.
Selanjutnya aku betul-betul sudah tidak peduli dengan nasib naas maling itu dan pembakaran semena-mena yang bakal dilakukan oleh kawan-kawanku di luar sana. Karena aku dan pacarku sudah lupa diri bahwasannya kami tengah berada dalam gelora api neraka perzinahan di sejuknya pagi.
*******
babarsariyogya, september 2002
Keterangan:
1) wae = saja
2) Su berasal dari kata “asu” = anjing
3) Asu tenan = Anjing betul
4) Asu edan = Anjing sinting
5) Mambu = bau.
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 3 Agustus 2003]
SELALU ADA YANG BISA MEMETIK BUAH
Bulan binar menatap bumi nanar, tak jua berhasil menembus hadangan rerimbunan pohon peneduh tepi jalan raya lintas kota itu. Lampu penerang di pinggir jalan sudah lama tidak berfungsi, lantaran sering dijadikan sasaran uji kejituan oleh anak-anak kecil yang sering bermain ketapel (betet). Sedikit kendaraan yang lalu-lalang tatkala sebuah motor bebek mengoyak kelam dengan kecepatan sedang dari arah luar kota.
Jalan raya lintas kota yang dipagari oleh barisan pepohonan itu sebetulnya belum selesai diperbaiki. Dan, ada bekas lubang yang masih dibiarkan separuh menganga. Ya, menganga, bagaikan mulut maut yang suatu waktu siap menelan nyawa orang-orang yang menyenggolnya. Seharusnya ditimbun. Seharusnya. Tapi entah kenapa dibiarkan, seolah sengaja. Juga, tidak ada rambu-rambu sebagai petunjuk adanya lobang, agar dapat diketahui oleh kendaraan yang lalu-lalang di sekitarnya.
Malam semakin tua. Motor bebek masih melaju, dikendarai oleh suami-istri berusia setengah baya yang baru pulang menghadiri resepsi pernikahan di kotamadya.
Berhubung gelap membekap malam, mereka tidak bisa mengupas keadaan jalan secara jelas. Lantas, roda sepeda motor mereka terperosok ke lobang lebar itu. Memang tidak terlalu dalam. Tapi, telah mengagetkan si pengemudi yang berusia setengah baya itu. Serta-merta kendaraan jadi limbung. Nasib malang, mereka pun jatuh.
Dan, paling malangnya lagi, dari arah belakang meluncurlah bis antarkota yang melaju kencang. Akhirnya ….
Beberapa orang yang kebetulan melihat kejadian tersebut pun segera mengejar sambil meneriaki bis itu. Untunglah bis dapat dihentikan, meski setelah hampir satu kilometer. Para penumpang berhamburan keluar. Lalu bisnya dibakar mentah-mentah. Sopirnya dan kondektur langsung dihajar habis-habisan. Babak belur. Keduanya pun ditelanjangi.
Dalam keadaan kedua awak bis yang sekarat, kendaraan patroli polisi lewat.
Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan peringatan dicurahkan ke udara. Serta-merta membuyarkan tindak kekerasan mereka beserta kegiatan lain di sekitarnya.
Mereka menghentikan aksi brutal mereka sebelum terlanjur mencabut nyawa sopir dan kondektur bis tadi. Mereka memberi kesempatan polisi untuk menindaklanjuti proses selanjutnya. Tiga orang dari mereka diinterogasi, termasuk pria bernama Paijo.
“Mereka melakukan tabrak lari, Pak!” kata Paijo dengan sangat emosional. Dia juga melintasi jalan tersebut, setelah pulang dari acara keluarga. Ternyata pasutri setengah baya itu adalah saudara orang tuanya.
“Di mana?”
“Di jalan Timur. Kira-kira satu kilometer dari sini,” jawab massa lainnya.
“Bud, hubungi kantor, minta bala bantuan menuju tempat kejadian kecelakaan itu. Dan, kalian bertiga ini silakan ikut kami,” perintah komandan dalam patroli tersebut.
“Siap, Pak!”
Seorang polisi lainnya menemukan dompet kedua korban amuk massa itu. Tak ada isinya. Cuma ada KTP, SIM dan kertas-kertas. Ternyata milik sopir bis dan rekannya.
Sementara mobil kijang warna hijau tua lainnya bergerak menuju tempat kejadian kecelekaan tragis tadi. Di tempat itu pun polisi menemukan dompet menganga, KTP, SIM dan beberapa uang receh berceceran. Ternyata milik kedua korban kecelakaan.
***
Kata-kata penyokong tabah dan penghibur lara dikumandangkan dari pengeras suara yang ditumpangkan di atas pohon mangga. Rumah duka itu dikerubungi banyak pelayat. Ada yang menangis. Ada yang terisak. Ada yang duduk-duduk seraya mengobrol. Ada yang bersenda gurau. Semua melakonkan peran masing-masing.
“Dik, aku pulang dulu, ya,” kata Paijo seraya menunjukkan perutnya, yang artinya dia tengah kebelet ke belakang.
“Mas Jo sudah makan?” tanya istrinya yang sejak pagi ikut membantu masak di dapur untuk memasak penganan bagi para pelayat yang nanti tidak kebagian nasi kotak.
“Sudah. Malah dua kotak, sampai-sampai aku kekenyangan.”
“Mas, tolong bawain nasi, sayur dan lauknya ini, ya, Mas, untuk makannya Antok
kalau ia pulang sekolah nanti,” pinta istrinya sambil menyodorkan rantang bersusun tiga. “Tadi pagi aku ndak sempet masak, karena aku buru-buru disuruh bantu-bantu di sini.”
Laki-laki itu menyambut titipan istrinya itu, lalu berjalan ke samping rumah duka. Di situ ia berpapasan dengan dua tetangganya.
“Jo, nanti malam kita ngumpul di sini saja.”
“Iya. Seperti biasa lho, Rin,” sahut Paijo.
“Oh, iya, Mun,” kata Ngadirin kepada kawannya di sebelahnya, “kamu ajak si Parlan, Kancil dan Tejo. Nanti aku ajak Pentul, Gogon dan Tukiman.”
“Kira-kira ada berapa orang?” tanya Paijo.
“Satu, dua, tiga,…,” Sarmun menghitung. “Kira-kira delapan orang. Belum dari pemuda sini.”
“Bener, bener. Tiga meja aja, cukup, Rin.”
“Kartunya kamu siapin, ya, Jo?”
“Gampang,” sahut Paijo sembari bergegas pulang.
***
Seorang pria berpakaian rompi yang digelayuti saku-saku besar memasuki perkampungan tanggung yang tengah berselubung duka itu. Vespa birunya berhenti sejenak dekat sebuah tong yang ditancapkan sebatang bambu dengan bendera putih.
Rumah duka itu gampang ditebak, lantaran tamu-tamu diantara kursi pelayat tampak memenggal jalan sempit kampung itu. Selain itu, ketika masih sekolah menengah beberapa tahun silam, dia pernah datang ke situ, ke rumah itu, karena diajak oleh teman sekolahnya yang masih punya hubungan keluarga dengan pemilik rumah itu.
“Sini, Mas,” panggil seorang pemuda. Ternyata petugas parkir dadakan.
Pria berompi ini melaju perlahan ke arah petugas parkir itu. Tepat di depan si petugas, ia mematikan mesin vespa birunya. Petugas parkir dadakan segera menggiring alur kendaraan pria tadi ke arah tempat parkir. Di sana ia segera memarkirkan kendaraannya, diantara kendaraan yang lain. Kebetulan ia bisa menempatkan kendaraannya di bawah pohon jambu yang rindang.
“Langsung bayar aja, Mas, lima ratus.”
“Oh iya,” sahut pria berompi seraya merogoh sakunya. Dia sedikit kaget, sebab ongkos parkir per motor biasanya cuma tiga ratus perak. Apa daya, ini masalah peraturan kampung yang tidak terdaftar. Suka-suka mereka. Setelah membayar ongkos parkir, ia bergegas menuju halaman samping rumah itu. Beberapa pasang matanya melihatnya.
“Permisi, Mas,” katanya sewaktu berpapasan dengan seorang pemuda, “Mas Paijo ada di sini, nggak, ya?”
“O, ada. Ada, Mas. Mas ini siapa?” tanya pemuda itu.
“Saya temannya Paijo.”
“Mmm…, tunggu sebentar, ya, Mas.”
Pemuda itu berbalik, kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian tampak seorang pria berkumis dengan muka kuyu bagai bunga layu. Ia kurang tidur.
“Oo, kamu, Noy,” sapanya.
“Adik iparmu bilang, kamu di sini, Jo. Langsung aja aku ke sini,” ujarnya sewaktu bertemu dengan kawannya, Paijo.
“Tadi aku sempat pulang sebentar. Tapi, bener dia ada di rumah, Noy?”
“Ya. Kelihatannya baru pulang dari bepergian.”
“Ooo…syukurlah. Soalnya dia dapat tugas membeli perlengkapan pemakaman serta mencari orang-orang untuk menggali lobang kubur. Nggak tahu juga, apakah biayanya sudah naik atau belum. Soalnya sudah sering terjadi perubahan harga.”
“Oh iya, sorry, Jo, tolong antarkan aku melihat jenazahnya dulu,” potong Onoy.
“Ayo, ke dalam,” ajak Paijo.
Keduanya bangkit dan melihat ke ruang dalam. Di sana ada dua peti mati. Dan, di dalamnya masing-masing terbungkus sekujur tubuh. Onoy terkejut, namun dia diam saja. Lalu mereka kembali ke tempat duduknya semula.
“Pakcik dan makcikmu sekaligus?” tanya Onoy.
“Ya, paklik dan bulikku. Korban kecelakaan tadi malam. Untung penabraknya dapat dikejar orang. Aku juga ikut menghajar sopir bis itu sampai remuk, dan urusannya belum selesai nih.”
“Di mana?”
“Di jalan raya menuju kota,” jawabnya sembari menceritakan kembali sekelumit musibah malam tadi.
Jalan raya menuju kota. Tiap hari Onoy melintasi daerah itu. Memang sedang diperbaiki. Sayangnya, rambu-rambu nggak ada. Tidak terpikirkan bakal terjadi kecelakaan. Peralatan pemulusan jalan pun ditinggalkan teronggok di pinggir jalan. Tak khawatir kalau-kalau dicuri atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Para pekerja perbaikan jalan itu seakan tak peduli dengan barang-barang itu. Padahal harganya tidaklah murah. Pembeliannya pun mungkin masih dengan mengemis-ngemis bantuan utang luar negeri.
“Wah, kalian harus menggugat DPU nih,” komentar Onoy. “DPU itu harus bertanggung jawab. Pasalnya, itu ‘kan hasil pekerjaan mereka, proyek mereka.”
“Iya, ya, bener, Mas,” celetuk seorang pria di sebelah mereka. “Kemarin-kemarinnya sering terjadi kecelakaan gara-gara tergelincir di lobang itu.”
“Nah! Masak mereka makan gaji buta tanpa peduli tugas sudah selesai atau belum. Masak mereka bisa tertawa menikmati gaji, bonus dan bermimpi pesangon pensiun kelak, padahal lebih dua orang telah memakan buah keteledoran mereka!” gerundel Onoy.
“Yo, Waluyo,” panggil Paijo ke arah seorang pemuda yang tengah asyik bergerombol dengan kawan-kawannya.
Pemuda itu langsung bangkit dari duduk dan ngobrol bersama kawan-kawannya.
“Ada apa, Mas?” tanya pemuda bernama Waluyo, adik sepupunya Paijo.
“Nanti kamu dan beberapa pemuda sini berembuk. Lalu pergilah ke kantor DPU, minta pertanggungjawaban mereka atas kejadian semalam di proyek mereka.”
“Baik, Mas,” jawab Waluyo sembari kembali ke duduk dan ngobrolnya.
“Mas,” tegur seorang gadis manis beserta seorang pemuda yang membawa baki dan setumpuk nasi kotak, “silakan makan dulu.”
“Ya, ya, terima kasih,” sambut Onoy. Ia menerima kotak putih berisi nasi dan lauk-pauknya. Ia bersyukur sekali, sebab dari tadi malam ia belum makan gara-gara mengejar deadline artikel yang tak jua diperolehnya.
Kebetulan sekali, pikir Onoy diantara sendok plastik yang keluar-masuk mulutnya. Mending ‘ntar malem aku ikut begadang di sini aja ah. Siapa tahu aku bakal dapet inspirasi untuk bahan tulisan.
“Kok diam saja, Noy?” tegur Paijo setelah Onoy mengelap mulutnya.
“Nggak ada apa-apa, Jo. Aku tiba-tiba ingat kerjaanku kok,” jawab Onoy. Padahal ia pun tadi sedang merasakan bagaimana perutnya bisa menikmati makanan yang masuk.
“Eh, kamu kerja di mana sekarang?”
“Bekerja freelance di tabloid budaya. Magang dulu. Jadi penulis, editor dan ilustrator lepas. Sesekali bikin cerpen, cerita horor atau sajak. Baru jalan dua bulan ini.”
“Ooo…”
Sembari menikmati nasi kotak itu, Onoy teringat cerita istrinya tadi pagi sewaktu istrinya pulang dari warung mbak Retno. Kemungkinan sopir dan kondektur bis malam itu adalah tetangga Onoy sendiri.
Sementara itu Paijo memberi kesempatan Onoy menyantap nasi kotak berlauk ayam goreng serta secuil lalapan. Paijo mengingat-ingat uang yang diperoleh semalam dari dompet sopir dan kondektur bis itu. Ada kira-kira enam ratus ribu rupiah. Lebih dari cukup untuk begadang sambil bermain kartu semalam suntuk, bahkan bisa sampai besok malam jika ia menang. Kalau pun kalah, bukan masalah.
Di bawah rajaman mentari tengah hari kedua jenazah dianggung dengan keranda beramai-ramai menuju pemakaman kampung pinggir kota. Beberapa orang melempar-lemparkan uang receh ke pinggir jalan. Anak-anak berebutan memunguti keping demi keping yang tercecer.
*******
babarsarijokja, april 2002
[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 20 Juli 2003]
